Rabu, 07 April 2010

Seandainya...


Seandainya aku bisa memilih, tentu aku ingin memilih seperti yang kuingin. Seandainya Tuhan pasti mengabulkan pintaku pasti aku ingin meminta sesuatu yang membuat hidupku lebih baik dan lebih baik lagi. Seandainya Tuhan mendengarku hanya aku pinta sesuatu yang belum aku punya saat ini. Semuanya hanya seandainya.
Aku Menulis seperti kata hatiku ini, bukan berarti aku tidak pernah bersyukur atas karunia yang Tuhan berikan. Aku hanya berkata seandainya. Hidup di dunia memang seperti lakon yang didramakan saja. Skenarionya sudah ada, mencoba bargaining dengan keadaan memang sah-sah saja. Kadang terbersit, bahwa hasil bargainingpun adalah sudah menjadi bagian dari skenariao itu sendiri. Skenario yang terdiri dari episode-episode hidup yang harus dijalani dengan atau setengah hari.
Episode-episode yang telah kujalani memang episode yang bukanlah sebuah extraordinary strory. Tetapi itu telah ada dan menjadi catatan dalam sejarah hidup. Menjadi lakon utama dalam babak demi babak yang aku jalani dan saat ini belumlah sampai klimaks dan konflik yang aku takutkan. Semua akan berujung pada klimaks tentunya sebelum datang antiklimaks dan berakhirnya cerita yang telah diskenariokan.
Seandanyai Tuhan mendengarku, tentu akan kupinta untuk mengubah sebagian episode yang akan dan telah aku jalani. Karena episode-episode itu sambung menyambung menjadi satu. Tidak ada episode yang benar-benar tuntas, semua member andil bagi episode sesudahnya. Memang sudah menjadi suratan takdir. Seandainya pula aku bisa memilih, ada yang ingin sekali episode yang ingin aku lalui. Mengganti alur cerita menjadi lebih bermakna dan memiliki nilai estetika yang menginspirasi banyak orang. Semuanya Cuma seandainya dan kembali lagi, seandainya Tuhan mendengarku dan mengabulkan apa yang kumau tentu aku sangat bahagia…

Benteng ketabahan


HPku berdering dan sebuah nama tertulis dari layar HPku, sahabatku menelponku ketika aku lagi on duty, pasti ada yang sangat penting yang ingin ia sampaikan mungkin sampai ia menghubungiku, Begitu pikirku kala itu. Dari seberang sana suara itu hanya sayup-sayup dan sesekali terdengar isak tangis dan sedu sedan. What Happened Sister? Hampir tidak pernah kudengar suara tangisnya selama ini. Ia kukenal sebagi seseorang yang kuat, tegar dan tak pernah punya masalah. Baginya hidup adalah kesenangan, menikmati hidup adalah tujuan hidupnya. Laksana hidup di dunia kan selama-lamnya dan tiada akhir? “Aku capek, aku lelah,” jawabnya ketika kudesak apa yang terjadi. Pikiranku terus melayang dan mencoba mengaktifkan sel-sel neuronku yang sebagian masih tidur. Apa ada yang salah dengan aku ya?”Begitu benakku berpikir”. Takutnya aku pernah salah sama dia. “Ada apa Sister?” May I help you,” pintaku seraya membangun thrust. “Aku capek, aku capek sekali, tetapi aku tidak mampu bercerita, aku tak sanggup…bla…bla..bla..”, kalau dirangkum intinya dia capek akan tetapi dia tidak mau menjelaskan kenapa dia capek. Sedu sedannya ibarat tembakan salvo yang bertubi-tubi ditembakkan diangkasa sembari mengirinya kepergian seorang pahlawan. Ya, pahlawan ketegarannya telah pergi, kekuatan yang ia gadang-gsdang sebagai seseorang yang masa bodoh mulai sirna. Ada apakah ini?
Otakku walaupun pas-pasan kalau diadu untuk merangkai peristiwa dan untuk menyusun hipotesa-hipotesa tentu masih mampulah. Walaupun kalau dikompetisikan pasti bukan juaranya. Peristiwa-peristiwa itu telah menggiringku akan sebuah kesimpulan yang aku yakin pasti ada kebenarannya. Walaupun ¼ atau nyerempet-nyerempet sedikit. Biar aku dan Tuhan yang tahu. Karena memang itu bukan urusannku. Dia bercerita padanya mungkin hanya untuk membagi beban agar tidak terlalu berat.
Mekanisme koping yang ia bangun selama ini, perlahan runtuh. Benteng ketabahan yang ia jaga selama ini perlahan retak. Aku yakin, ia mampu bangkit dan bertahan. Karena sesungguhnya kekuatan itu masih ada dan kekuatan itu adalah senjatanya selama ini untuk bertahan dan menjalani perannya. Hidupnya memang telah terlibat dalam urusan orang dan ia mengatakannya, tapi ia tak tahu harus kemana dan bagaimana ia menyudahi semua episode yang telah ia jalani dan sekarang ia menyatakan bahwa ia salah selama ini.
Ya whateverlah, semua orang punya masalah. Tergantung kadar masalah tersebut. Orang mungkin mampu bertahan dan tumbuh menjadi laksana kupu-kupau yang indah. Tetapi kita masih punya Tuhan. Masih ada kekuatan doa yang mampu membangun lagi benteng ketabahan kita. Harapan akan selalu ada. Karena masalah bukan hanya milik satu orang saja, aku dan kamu, dia tau mereka pasti punya masalah. Bersabarlah.

Senyum


Senyum (SMILE) By : RAIHAN
You look sweet
What is the secret
But physically
I can see
your face is warm with smile
Smile, smile
smile is the sign of friendliness
Smile is the sign of love
Smile is the easiest donation
Smile in time of hardship is the sign of endurance
Smile is the sign of faith
smile
A sad heart feels good
ghanmy Upon seeing a smile, heart will feel at peace
but smile sincerely
Smile from the heart
falls to others heart
smile (4 X)
Its the easiest smile
The other party will not feel indebted
ghanmy Strengthenour friendship
but dont misuse smile
ghanmy Smile like our prophet
His smile filled with light
Smile because of God
Thats the smile of charity
smile (10X

Sebuah rangkaian lirik lagu yang disampaikan oleh Munsyid dari negeri Jiran Raihan. Dalam rangkaian lirik tersebut menggambarkan betapa dahsyatnya senyuman. Kecil tetapi bermakna dalam mengubah segala sesuatu. Dengan senyuman diharapkan hidup menjadi lebih indah, hidup menjadi lebih cerah dan menjadi lebih berarti bagi lingkungan kita.
Semanis wajah dari orang yang tersenyum tulus ibarat oase di padang yang tandus. Sejuk dan manis sekali dipandang. Sebuah sedekah yang paling mudah bagi saudara kita karena tidak akan pernah merasa berhutang budi. Dengan senyum semuanya akan menjadi lebih berwarna.
Senyum memang bayak artinya, ketika kita melihat macam-macam senyum maka hati kita bisa peka tentang arti senyuman seseorang terhadap kita. Senyum itu ada yang manis, ada juga yang sinis, ada yang bermaksud menghina, ada yang bermaksud menggoda, ada senyum tanda kita bahagia. Senyum yang paling hebat adalah senyum diwaktu datang kesedihan, dimana senyum dalam kesedihan menandakan adanya ketabahan dari sang pemilik senyum tersebut. Tidak mudah memang.
Senyum tidak perlu “Kulakan”, oleh karena itu tidak rugi apabila kita menarik bibir kita 2 cm ke samping kanan kiri dan mempertahankannya hingga 7 detik saja. Niatkan senyum yang ikhlas, maka akan terpancar senyum yang tulus dan berseri-seri. Senyum yang ikhlas bisa menunjukkan kebersihan jiwa kita, menunjukkan bahwa kita bahagia, menikmati karunia dan penuh syukuru untuk menjalani kehidupan. Hidupkan hidup dengan senyuman, biarkan orang bahagia melihat sekilas senyuman kita yang menambahkan rupawan bagi wajah-wajah yang penuh cinta seperti kita-kita…