Kamis, 28 Oktober 2010

Manajemen Mendengar


Mendengar, begitu mudah diucapkan akan tetapi sungguh sulit untuk dilakukan. Mengapa mendengar sangat sulit untuk dilakukan, walaupun secara teori kita cuma diam dan pasang telinga baik-baik, tidak perlu buang-buang kalori untuk mendengar sebuah masukan.
Sebenarnya Tuhan sudah memberikan tanda-tanda agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara, kita punya 2 telinga dan satu mulut. Secara tidak langsung seharusnya manajemen mendengar kita harus lebih canggih dari manajemen retorika/manajemen berbicara kita.

Rasullulah mengatakan barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka ucapkanlah dengan kata-kata yang baik ataupun lebih baik diam. Alasannya masuk akal, sebab kata-kata kita kelak akan dipertanggungjawabkan (QS. 50:18). Ketika tidak ada gunanya kita berbicara, alangkah baiknya apabila kita diam. Karena dengan diam itu ada kekuatan, salah satunya kekuatan sabar kita yang diuji.
Banyak sekali percekcokan, pertentangan, perkelahian karena kita tidak bisa saling mendengar, semuanya ingin didengarkan dan dianggap memiliki kata-kata yang mumpuni dan solutif. Setajam-tajam pedang lebih tajam lidah orang, sering terjadi sengketa karena salah bicara, nah lo!

Menjadi pendengar yang baik adalah sangat sulit sekali, sudah sulit ditambah sangat plus sekali, fiuhhh. Manajemen mendengar sudah coba aku asah sejak aku pelajar, akan tetapi masih sulit juga, kadang pertahananku bobol dan keluarlah seribu satu alasan atau pembenaran agar tidak terlalu lama jadi pendengar. Apalagi kalau ada kritikan yang diarahkan kepada kita, mau beralasan pasti dikira membela diri, mau tidak membela diri kuping kita jadi panas. Seandainya kritik itu benar mungkin kita masih bisa berbesar hari, kalau kritik yang diarahkan kepada kita cenderung fitnah, akan sangat menyakitkan. Pasrah sajalah, memang kita perlu belajar senam hati, toh Allah tidak tidur, so take it easy.

Keterampilan menjadi pendengar yang baik akan selalu mendewasakan orang, aku sangat yakin dan percaya bahwa orang yang mampu mendengar dengan hati akan menjadi individu yang tidak takut akan perubahan dan siap untuk bersaing secara sehat. Bagaimanapun, ketika kita mampu menganalisa lebih dalam dari hasil mendengar kita, maka akan sangat bermanfaat bagi kita kelak di kemudian hari.

Aku berharap, bahwa aku bisa menjadi orang yang mampu mendengar dengan hati, berbicara dengan asertif, dan aku mohon perlindungan kepada Allah akan segala fitnah. Semoga aku dijauhkan dari salah prasangka, iri, hati, dengki, rasa sombong dan zalim kepada orang lain. Ya Allah peliharalah aku dari hal-hal yang bisa mencelakaiku. Semoga selamat hidupku di dunia dan akhirat, Amien.

Rabu, 27 Oktober 2010

Pesona Puncak di Malam Hari


Pertama kali tahu tentang puncak adalah ketika aku masih SD, dimana Puncak menjadi salah satu tempat wisata yang tertulis di Mainan yang bernama Monopoli. tidak kebayang sama sekali mengenai Puncak pass, apakah itu taman, hutan, or gunung. Yang aku tahu puncak pass Bogor bersanding dengan kompleks wisata yang murah dalam permainan monopoli tersebut. kalau nggak salah satu komplek sama Kebun Binatang Ragunan, Taman Safari, Taman Mini dsb.


Semakin beranjak tua, Puncak semakin familiar karena sering muncul beritanya di TV. Puncak yang berhawa dingin yang letaknya tidak begitu jauh dari Jakarta, Puncak yang rawan macet ketika liburan, puncak yang sudah berubah menjadi hutan villa, dan puncak untuk lokasi syuting-syuting sinetron.
Marketisasi media ternyata cukup ampuh untuk mengajak seseorang mengunjungi puncak, dan lagi-lagi akulah orangnya itu salah satunya.
Akhirnya my dream come true juga, seorang teman mengajak ke puncak selepas kerja pada hari Jumat. Hitung-hitung refreshing daripada cuma bengong di Kost. Walaupun hujan deras tiada berpantang surut ke belakang, patriotik banget ya. Maklum, mumpung ada kesempatan.
Perjalanan macet kota Jakarta yang membuat perjalanan terasa lama, ketika sampai di Puncak sudah menjelang malam, kurang lebih 4 jam perjalanan dengan macetnya.


Sesampai di puncak, udara dingin langsung menusuk-nusuk tulang. Walaupun aku anggun (anak gunung), aku merasa dingin sekali rasanya malam itu. Suasananya memang tidak begitu jauh berbeda dengan Batu Malang, dingin dan banyak villa. Karena datang malam hari, yang nampak hanya gelap dan pesona cahaya lampu berkelap-kelip ibarat mata-mata yang berbinar-binar dari kejauhan. Sorry bahasanya nyastra dikit.
Mampir di Masjid Attaawun, sungguh pengalaman yang menarik. Sebuah masjid yang cukup eksotik dan kayaknya pantes buat bermuhasabah dan nyaman untuk menyendiri. Sayang sekali, walaupun di masjid masih banyak juga pasangan PDA yang rata-rata ABG. Ngapain ya malem-malem keluyuran, nggak jelas.


Dingin jadinya laper, biar hangat maka harus makan. Pas perjalanan dai Jakarta melewati Bogor sudah ngincer warung makan di pinggir jalan yang serupa tenda-tenda gitu, nampaknya tradisional banget makanannya. Pingin mampir pas pulang ah, gitu pikirku. But, laper udah nggak tahan akhirnya makan gorengan 10 Biji sama minum Bajigur dan bandrek campur susu. Wuihhh, enak gila! Laper, dingin minumnya panas….asli bikin pingin tidur.
Di Sepanjang jalan cuma gelap yang terlihat, sesekali ada orang yang berdiri di pinggir jalan sambil membawa senter yang berkedip-kedip. Kata temenku mereka menawarkan villa. ooooo…begindang…..sama selimutnya nggak Om? Tahukan maksudnya.


Cukup satu jam setengah, nggak lebih. Soale dingin banget. Maklum habis hujan. Pulanglah aku ke Jakarta. tekadku, aku pasti balik but enaknya siang hari ya. Biar kelihatan semuanya. InsyaAllah…

Minggu, 17 Oktober 2010

Menggapai Separuh Mimpi...



Mimpi adalah harapan, mimpi adalah sebuah keinginan yang tulus. Berharap mimpi menjadi kenyataan adalah sebuah proses yang normal. Membuat mimpi menjadi nyata adalah sebuah keinginan yang besar dalam hidup seseorang. Sebagian orang berusaha menggapai mimpinya dengan cara yang ia anggap baik dan sebagian orang berharap dengan kekuatan doa agar Tuhan masih memberinya kesempatan untuk merealisasikan mimpinya dengan cara yang telah diatur olehNya. Mungkin aku adalah orang yang masuk dalam golongan ke-2. Mimpiku banyak terwujud dengan bantuan Allah SWT sebagai pemilik hidup.

Mimpi-mimpiku yang aku pendam semenjak kanak-kanak satu persatu mulai terealisasi, walaupun sebenarnya aku tidak terlalu ngoyo untuk mewujudkan mimpi-mimpiku. Karena aku yakin bahwa semua sudah ada yang mengaturnya dan sudah ada jalurnya masing-masing. Mengunjungi dan berwisata di tempat wisata yang terkenal di Indonesia dan di seluruh dunia pasti menjadi sebagian besar mimpi orang-orang di seluruh dunia. Begitu pula aku yang selalu mencoba untuk menghargai apapun pengalaman yang didapat, walaupun bagi orang lain dianggap tidak bermakna, bagiku adalah sebuah anugerah yang indah, yang akhirnya akan menjadi rangkaian perjalanan hidupku di dunia yang hanya sementara ini.

Menginjakkan kaki di kota Medan bukanlah sebuah peristiwa yang biasa saja bagiku. Sedikit banyak mimpiku sudah terwujud walaupun ada obsesi yang lebih besar dari sekedar mengunjungi kota Medan. Aku sangat bersyukur kepada Allah, akhirnya aku berhasil menginjakkan kaki di Bandara Polonia Medan pada Minggu Malam 10-10-2010. Sebelumnya di Kota Padang pada tahun 2003, kemudian kota Batam pada Bulan September dan yang ketiga adalah Kota Medan Sumatera Utara. Aku berharap suatu saat dapat mengunjungi Kota Banda Aceh, Bengkulu, Palembang, Tanjung Pinang, Pekanbaru, Lampung dan kota-kota lain di Pulau Andalas ini. Semoga….

Tugas dari Kantorlah yang mengantarkan aku ke Kota Medan. Sebuah Kota di pesisir timur Sumatera dengan segala keunikannya. Selama 5 hari sangatlah tidak cukup untuk mengenal lebih dalam tentang pesona Sumatera Utara yang terkenal dengan Wisata Danau Tobanya ini. Pinginnya ekstens sampai hari Minggu sehingga bisa mengunjungi danau Toba, tapi karena first time trip sehingga belum kepikiran ke situ. Semoga suatu saat aku bisa berfoto di samping danau Toba yang merupakan mimpiku sejak aku SD. Foto dengan pose sok cool agar kelihatan sedang merenung di pinggir sebuah Danau terbesar di Indonesia. Siapa tahu bisa dijadikan salah satu gambar nominasi pre weddingku kelak. Pre wedding tapi gak ada pasangannya apa bisa ya? Bisa, tapi nggak lumrah.

Berbicara mengenai mimpi kanak-kanakku dulu, sebenarnya ada 4 tempat wisata yang sangat ingin aku kunjungi sejak aku masih imut-imut dulu (sekarang masih nampak lho, sisa-sisa keimutannya he..he…). Tempat-tempat tersebut adalah Bali, Danau Toba, Bromo dan Taman Impian Jaya Ancol. 3 dari tempat wisata tersebut sudah aku kunjungi walaupun terbilang telat. Aku Bisa ke Pulau Bali pada usia 23 Tahun (udah kebilang tuwir kan). Keinginanku tersebut terwujud dengan manis, karena aku bisa tinggal di Bali selama 4 Minggu dalam rangka pelatihan, gratis plus uang saku. Asyikkan! Tips : Kalau pingin ke suatu tempat, bantulah dengan kekuatan doa, InsyaAllah terwujud walaupun tidak dalam waktu dekat. Percayalah. Selanjutnya Bromo serta Ancol juga sudah terwujud, semuanya gratis karena ada sponsornya, Asyik bukan. Yang penting sabar bahwa semua akan ada waktunya. Tinggal danau Toba yang belum terealisasi, tapi dengan mengunjungi Medan aku bersyukur sebagian mimpi dan jalan sudah mulai terbuka untuk ke Danau Toba.

Ketika mengunjungi sebuah Kota yang baru, biasanya aku sangat tertarik dengan wisata Budaya dan kulinernya. Mencoba memahami karakteristik masyarakat sebuah kota tidak cukup dalam 5 hari, perlu tinggal lebih lama lagi. Dalam lima hari aku mendapat pengalaman yang membuat aku menjadi lebih merasa lagi sebagai orang yang tidak tahu apa-apa. Ternyata pengetahuanku sangat terbatas di antara beribu keanekaragaman dan kebinekaan yang ada di Indonesia. Indonesia memang sangat kaya dengan budaya dan kulinernya. Medan dengan suku Bataknya menjadi ciri khas yang menarik untuk diamati. Aku dibesarkan dalam lingkungan Jawa tentu akan sedikit merasa canggung ketika berada dalam komunitas suku lain, ternyata kecanggunganku tidak beralasan karena teman-teman dari Medan sangat friendly dan keramahannya lebih dari yang aku bayangkan. Terus terang ketika hendak mengunjungi Medan yang terbayang di benakku adalah aku akan disambut oleh orang dengan logat bicara yang asli medan dengan e tarling dan nada yang selalu naik 0.5-1 oktaf sehingga sekilas seperti membentak. Persepsi ini terbentuk karena dipengaruhi oleh sinetron, infotaintment dan acara lawakan di TV yang selalu menggambarakan orang Batak dengan orang yang ngomongnya kenceng dan frankly speaking tanpa tedeng aling-aling, phewww…

Ternyata persepsiku banyak yang keliru, memang banyak juga yang seperti digambarkan di Sinetron dan infotainment. Surprisenya, supervisor medan malah lemah lembut persis kayak puteri Solonan. Wajahnya juga nggak nampak orang Sumatera Utara, cenderung kalem (kayak lemper he..he…he..) dan tenang. Cuma namanya saja yang ada marganya sehingga membedakan dengan orang Jawa. Usut punya usut ternyata beliaunya lama tinggal di Bandung, sehingga budayanya juga sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya Sunda. Mungkin lho, namanya juga analisis Bebas, nggak ada yang ngelarang. Iyakan Mbak Mel?

Lain lubuk lain belalang, dalam menyebut istilah tertentu aku sempet dibuat heran. Contohnya ketika seorang staf area medan menyebut sepeda motor dengan sebutan kereta. Kereta dari hongkong? Pikirku kala itu. “Saya naik kereta aja, kata Eldo salah seorang tim area Medan.” Karena Goblok atau belum ngerti, spontan aku nyeletuk, “ Naik Kereta????? Mana Relnya pikirku?? Masak di Medan saja mau Ke Rumah Sakit harus naik kereta, ke Stasiun dulu ya??? Usut punya usut ternyata sebutan kereta adalah untuk sepeda motor. Dalam hati masih bertanya-tanya, kok bisa ya? Kereta = Sepeda motor, jauhhhh cing! Sampai aku nulis sekarang ini masih belum paham, mengapa pilih nama kereta. Persepsiku kereta itu ya kereta api, atau kereta kuda, bukan sepeda motor buatan Jepang seperti itu. Apa dulu kereta kuda di Jepang cuma beroda dua ya? Yo wis lah, dapat perbendaharaan kata baru, kereta = sepeda motor. Kalau kereta api nyebutnya apa ya, lupa nggak nanya.

Nama angkot di Medan juga unik, namanya Sudoku. Kejepang-Jepangan gitu ya. Artinya apa, aku juga gak sempat nanya. Kalau becaknya unik, tukang becaknya tidak ada di Belakang kayak Becak-Becak di Solo, akan tetapi di Samping. Dan kebanyakan pakai motor. Wisata kotanya lumayan Banyak, seperti Masjid raya Medan, Istana Maimon yang merupakan bekas kesultanan Deli di Waktu lampau, Medan Walk, dan Pemandangan gereja-gereja di sepanjang jalan serta Bangunan-Bangunan bekas peninggalan Belanda seperti gedung-gesung pemerintahannya. Lima Hari aku malah lebih banyak Hospital Tour (tuntutan kerja soale..) dari Adam Malik, Martha Friska, Bunda Thamrin, Pirngadi, dan melintas di Depan Malahayati. Lumayan, kalau ditanya apa nama rumah sakit pendidikan di Medan, pasti bisa jawab. Soale sudah pernah berkunjung ke sana.

Selain tertarik dengan Budayanya aku juga sangat peduli terhadap kulinernya. Bicara masalah kuliner tentu akan berhubungan dengan perut. Sayang sekali, aku orang yang sangat fobia sama gemuk. Sekarang saja badanku sudah segede lemari kayu jati, kalau melar lagi tambah kayak bis malem. Amit-amit deh. Aku paling suka membanding-bandingkan citarasa masakan antar daerah. Sok menganalisa gitulah. Secara umum aku bisa melihat, bahwa untuk makanan di Sumatera lebih mewah dan lebih variasi daripada di Jawa. Makanan di Medan ini termasuk mewah dan enak-enak. Jarang warung yang hanya menyediakan makanan rumahan yang sederhana, kebanyakan seputar masakan Padang dengan ikan, daging, ayam, sea food sebagai andalannya. Jarang sekali telor, apa orang Medan nggak suka Telor ya? Kalau di Jawa makan seperti menu sehari-harinya seperti di Medan bisa bangkrut kali ya. Pas kuliah dulu, lebih banyak makan makanan sekelas warteg dan warung-warung kecil masakan jawa yang lebih banyak telor, gorengan tahu tempe. Untuk daging dan ayam tergolong mewah sehingga peminatnya juga kurang. Di Medan, kalau makan bersama, semua menu prasmanan dikeluarkan dan tinggal pilih. Dari Daging, macam-macam ikan seperti di Restoran Tapanuli yang menghidangkan macam-macam ikan dari Ikan Sale (bukan sale yang artinya obral ya), belut, kakap, Teri, udang dan banyak lagi, saking banyaknya nggak ngerti namanya. Ikan yang lumayan enak adalah ikan Sale tapi dilidahku telor dadar lebih nendang, dasar orang kampung! Makanannya se Indonesia Raya karena saking banyaknya dan rata –rata semuanya kaya bumbu dan bersantan. Seandainya dituruti sudah banyak kolesterol yang masuk ke tubuhku kali ya. Untungnya, kalau malam aku masih bisa ngerem nggak makan terlalu banyak. Bisa-bisa buncit nih perut.

Menyebut teh sebagai minuman juga sedikit berbeda di Medan. Di Batam biasanya menyebutnya teh O atau teh Obeng. Kalau di Medan menyebutnya Mandi alias manis dingin. Kalau teh tawar menyebutnya teh pahit dingin. Kalau habis makan, biasanya petugasnya akan mendatangi meja dan mengecek satu persatu makanan yang telah dimakan. Kalau ada 15-an menu dengan harga yang berbeda dan cara charge yang beda pasti akan mumet tuh petugasnya. Takutnya kelebihan atau kekurangan gitu bayarnya. Itulah risiko kalau menunya se Indonesia Raya. Paling enak ya sebenarnya kayak Restoran all you can eat gitu ya. But biaya yang harus dibayarkan konsumen pasti really..really..expensive….

Kalau sarapan di Medan, ada menu tersendiri. Seperti Mie Balap. Bicara Mie Balap jadi keinget sama Lontong Balap dari Surabaya, ternyata Mie Balap hampir sama dengan Mihun goreng plus telor Dadar. Enak lho Mienya, apalagi ada telor dadar. Di Medan juga banyak restoran yang disebut BPK alias Babi Panggang Karo yang 100 % diharamkan oleh MUI. Tentu sajalah, karena aku muslim so, no excuse. Ada lagi istilah makanan B1, B2 (aku lupa B1 anjing atau babi ya). Kalau di Bali juga banyak restoran Babinya, aku dan teman-teman biasanya menyebut dengan Baby Scrolling restaurant alias restoran babi guling. Biasanya di Bali didisplay di lemari kaca, di piring ada kepala babi yang merem (ya Iya lah, Babinya sudah mati soale, kalau melek dan berkedip-kedip jadi menakutkan). Di Medan aku tidak melihat ada Baby Scrolling yang didisplay di etalase. Mungkin komunitas muslim lumayan Banyak, sehingga toleransi.

Berlalu lintas di Medan, agak sedikit semrawut. Kadang lampu merah juga masih banyak kendaraan yang nyelonong saja. Bahkan pas macetpun ada yang nyalain klakson kenceng-kenceng, bikin kuping budeg. Kata narasumber hal itu sudah biasa di Medan, dalam berlalu lintas lumayan ancur dan horrible. Kalau di Medan saya jadi ingat ketika di Bali, dimana lalu lintasnya juga agak semrawut dan banyak kecelakaan akibat berlalu lintas yang kurang disiplin.
Karakteristik masyarakatnya juga heterogen, banyak pendatang di kota Medan. Selain Batak ada suku Jawa, Padang, Aceh, Tionghoa dll. Makanan khasnya juga enak, terutama bolu merantinya yang gurih dan lezat, sambel kacangnya yang pedas manis, dan Bika Ambon yang tidak sempat aku coba. Suatu saat kalau ada umur dan bisa kembali di Medan semoga bisa wisata kuliner lebih banyak. Pingin jalan-jalan keliling kota dengan jalan kaki seperti traveler dan bisa mencoba berbagai macam-macam kuliner khas medan. Durian belum dicoba nih, nggak sempet, kebanyakan makan nasi sehingga konstipasi, mules dan sempat diare karena perubahan pola makan akibat makanannya pedas-pedas. Duh, dasar perut nggak bisa diajak kompromi. Apes.

Itulah sekelumit kenangan di Medan, semoga menjadi prasasti dalam kehidupan yang manis. Pengalaman pertaman InsyaAllah adalah yang berkesan. Semoga Danau Toba bisa aku kunjungi, entah kapan. Aku berprasangka Baik kepada Allah, suatu saat aku pasti bisa ke sana. Terima kasih buat team area medan, you are so georgous. Keep fighting dan follow up ya. Terima kasih atas sambutannya. Sampai jumpa dalam keadaan yang lebih baik.. Amien.

Like and Dislike abaout Food.....


Bicara masalah makanan tentu tidak akan ada habisnya, kata orang makanan di dunia ini hanya ada dua macamnya yaitu enak dan enak banget. Tidak ada yang tidak enak. Tapi bagiku, walaupun badanku segede gajah anakan, yang tandanya aku doyan makan, ternyata banyak sekali makanan-makanan yang kupantang. Bukan berarti alergi atau karena faktor kesehatan, tapi karena faktor tidak doyan saja karena biasanya aku agak-agak jijik. Inilah makanan-makanan yang aku pantang dalam 10 besar makanan yang tidak aku suka dengan berbagai pertimbangannya…

1.Lele, sampai SD hingga Kerja sekarang aku sangat berpantang dengan ikan ini. Aku sudah lupa bagaimana rasa ikan ini. Selain jijik karena hewannya agresif, aku jadi tidak tega kalau melihat cara membunuhnya yang penuh dengan kekerasan. Dulu simbahku kalau membunuhnya dengan dipukul pakai uleg-eleg hingga menggelepar-menggelepar dan akhirnya si ikan wafat. Dan kadang ketika dimasukkan ke wajan untuk digorengpun masih hidup dan terlempar keluar. Hii…ikannya nyawanya dobel, padahal sudah dibumbuin lho ikannya. Banyak pemilik kolam yang menjadikan septiktank dengan kolam lele jadi satu. Dari WC langsung masuk ke kolam lele. So, makanan pokok tuh ikan adalah TA 1, sungguh eksotik. Back to nature banget! Ada cerita yang mengatakan bahwa pernah beberapa ekor lele yang terceber ke WC yang model WCnya plengsengan sehingga ikan bisa masuk ke dalam septiktank. Usut punya usut setelah beberapa tahun WC jadi mampet dan ketika di buka, satu septiktank isinya ikan lele banyak banget hingga menyumbat saluran WC. Phewwww, ternyata kehendak Tuhan, ikan yang masuk ke septiktank adalah lele jantang dan betina hingga beranak pinak tujuh turunan di septiktank dan lagi-lagi bisa bertahan hidup karena makanan pokoknya adalah TA 1, amit-amit. Sama pemiliknya semua ikan lele dijual dan tidak dikonsumsi sendiri. Kebayang nggak, kalau kita yang beli tuh ikan dan kita makan di meja makan, yang sebenarnya ikan itu lahir dan berkembang di septiktank….hii…..hii….
2. Belut, bentukmya yang seperti ular makanya aku takut dan geli melihat cara membunuhnya yang disayat pakai silet. Jadi terbelah dua……
3. Kelinci, Aku menganggap binatang ini lucu dan imut-imut dan aku tidak tega untuk memakannya…
4. Kambing, Baunya yang prengus dan alot ketika dibikin sate, jadi males mengkonsumsinya. Bapak saya dulu selalu berkurban tiap tahunnya. 2-3 bulan sebelum kurban selalu membeli kambing terlebih dahulu dengan pertimbangan harga kambing masih murah. Aku kebagian yang mengajak jalan-jalan tuh kambing. Karena aku nggak bisa mencari rumput makanya aku yang sering mengajak kambing jalan-jalan ke kebon belakang rumah. Ketika dipotong, keluarga kami juga mendapat jatah. Sejak saat itulah aku nggak doyan lagi makan kambing, kasihan sudah kayak temen sendiri.
5. Mentok, lihat mukanya yang merah berbintik-bintik aja sudah serem apalagi memakannya. No way lah…
6. Jengkol alias Jengki. Seumur hidup baru makan sekali dan habis itu nggak lagi ah, aromanya nyebar seantero jagat…
7. Telor Mentok. Amis banget, makan sekali terus kapok deh…
8. Belalang, Lihat bentuknya saja jadi kebayang sama satria baja hitam RX. Pas KKN Dulu pernah diserve sama Bu Lurah, sepiring belalang goreng , bukan nafsu malah jadi pingin muntah hoeekkkkk….
9. Kodok dan Bekicot, Kodok dimakan? kayak nggak ada makanan lain aja ya. Katanya Swike asli purwodadi enak but allhamdullilah aku nggak kepingin babar blaz! Jijai bajai and gilatun. Bekicot sudah pernah makan pas aku TK dulu, kalau sekarang disuruh makan no way lah. Berlendir…
10.Makanan-Makanan yang di haramkan oleh agama seperti B1, B2, Ular, bulus, bertaring, ganas, menjijikkan, bangkai, minuman keras, dll……….

Makanan Tradisional II


Aneka Makanan Tradisional II

Membahas mengenai makanan, maka tidak akan ada habisnya. Keanekaragaman makanan tradisional sekelas jajanan pasar dan makanan-makanan kelas menengah ke bawah membawa kekayaan kuliner Indonesia. Bisa saja hidup di Rusia, dengan makanan nuansa Rusia yang dominan kentang, roti dll. Di Rusia akan susah mencari namanya gemblong soalnya gemblong asli dari Indonesia. Hidup makmur di Amerika, suatu saat pasti akan kangen yang namanya getuk. Indonesia memang kaya lho….di samping kaya akan Hutan, gunung, sawah, lautan, kuliner, juga kaya akan koruptor, indisipliner, konflik dll..dll…komplit ada di Indonesia.

Menyambung sesion I, aku masih punya bejibun list makanan tradisional yang aku pernah makan dan familiar sekali di lidahku. Ini dia….lanjutannya…

Lapis, Kue ini tergolong murah dan enak. Di kampungku dulu kue ini berwarna merah pink pada lapis pertama dan putih pada lapis kedua. Dijual sama klepon dan ketan. satu biji 50 perak. Agak sticky dikit…

Botok, jadi teringat lagu dolanan pada waktu kecil dulu yang liriknya, “Ayo mulih madang, lawuhe BOTOK urang. Ayo maju perang, ditembak xxxxx abang.” Maaf ada sensor dikit he..he.., ini makanan sangat enak dan murah. Terbuat dari kelapa dicampur bumbu-bumbu seperti lombok , pete, bawang, brambang, tempe, tomat dll…ada macam-macam botok yang aku tahu, antara lain botok udang, botok teri, botok lamtoro, botok tempe, botok jamur, botok laron (weeekkkk, gilo aku). Dari semua Botok, Botok udang dan Botok teri yang paling aku suka. Dulu ada simbok-simbik yang menjajakan Botok ini berkeliling desa pada sore hari, sebungkus 50 perak. Paling enak dimakan sama urap, telor rebus/telor dadar, daging ayam, kerupuk dan nasi yang masih anget. Nyamplengg….

Pelas, (e nya tarling ya, kayak orang Batak kalau bilang e), Makanan ini hampir sama kemasannya dengan botok. Sama-sama dibungkus daun pisang. Anak kecil biasanya lebih suka pelas karena tidak pedas. But, aku dari dulu kurang suka dengan pelas. Komposisinya ada kacang tolonya dan bumbu rempah-rempah. Rasanya kurang menantang dan agak gimana ya???

Gembrot, Ini kuliner namanya rasis banget ya, fisikly sekali. Kalau ingat makanan ini jadi inget julukanku ketika kecil dulu. Maklum aku pas kecil imut-imut dan sedikit tambun (dikit atau banyak ?). Makanan ini terbuat dari daun sembukan dicampur dengan bumbu-bumbu (awas flatus!). Rasanya lumayan enak, better than pelas menurutku.

Arum Manis, warnanya pink, menggelembung bentuknya kayak rambutnya keluarga Simpson film kartun zaman dulu. Ortu dulu sering melarang untuk makan makanan ini karena bisa bikin batuk. Aku juga sering menyebutnya gula-gula, kayak lagunya elvy sukaesih dulu, dan hal ini juga diamini oleh adikku. kalau makan kayak makan kapas saja, lenyap ketika diemut. Masih banyak di jual di tempat keramaian yang bayak anak-anaknya misalnya di Pasar Malem dan tempat-tempat wisata murah. Soalnya yang beli ini ya musti anak-anak, kalau yang beli orang tua aneh saja lihatnya…masak orang tua ngemuti arum manis.

Sate Kojek, muncul setelah generasi penyuka salome mulai berkurang. Bentuknya bulet-bulet kayak sate telur puyuh tapi agak kecil, pakai bunbu kacang. lebih manusiawi daripada salome yang liat karena kebanyakan tepung pati kanji dan lebih bersih tentunya. Karena di sate kojek nggak ada istilah celup dua kali seperti di Saosnya salome/cilok.

Tepo, (E nya tarling lagi ya). Nama ini hanya familiar di Ngawi saja. Di Sragen udah beda namanya, di Surabaya nggak ada apalagi di Semarang. Lontong diberi kecambah, tahu yang digoreng, sambel ulekan kacang dan kadang diberi telur, telornya digoreng sama tahunya kemudian kecap manis tidak ketinggalan. Enak, murah dan lumayan bergizi. Makannya enak pada malem hari, apalagi kalau telor dan tahunya digoreng anget. Slruppp…..

Lemper, umum banget dimana-mana ada, but paling enak adalah lemper ayam/lemper basah. Ibu suka sekali membuat lemper basah ini. Pas waktu anak-anak dulu, aku paling ogah makan lemper kalau isisnya serundeng. Pikirku nggak modal banget nih orang, bikin lemper pakai serundeng. pakai abon kek, pakai ayam or daging gitu. Ternyata, setelah aku beranjak dewasa (l, pakai serundeng ternyata lebih gurih. Nyesel aku nyadarnya belakangan. Lemper dah kayak makanan wajib pas acara kondangan, selain nogosari tentunya.

Ongol-Ongol, kayak agar-agar diberi kinco campur kelapa. Makanan ini enak tetapi kurang familiar saja di kampungku. Jarang makan pula.

Es Wawan, ini bukan makanan tradisional akan tetapi es merk jadul. Dulu sangat familiar pas aku kelas 6 SD-1 SMP. Namanya kayak nama kakakku. Asli bikinan Jombang kayaknya. Rasanya sih tidak terlalu istimewa. Makanya nggak bertahan lama.

Roti Sisir, dulu harganya kalau aku nggak salah adalah 350 perak sebungkus. Roti ini enak lho. Sampai sekarang saja aku masih doyan. Biasanya kalao bercanda sama teman-teman pas kecil dahulu roti ini cara makannya seperti nginang (makan sirih). Sisir = Susur, cukup dekat kann?Maksa dikit!

Dudo Keplengkang, ini nama jawanya dari telo goreng. Biasanya ketika digoreng ketela dibelah tengahnya sedikit, kayak keplengkang gitu (bahasa Indonesianya aku nggak paham, bahasa Inggrisnya split). Sudah ada makanan rondo royal ditambah ada dudo keplengkang…wis..wis aneh…aneh…

Brambang Asem, Nih makanan aku temukan di Sragen. Hampir kayak pecel akan tetapi sayurannya daun ubi jalar. Sambalnya pedas manis. Pas SMA setelah pulang sekolah biasanya mampir untuk beli Brambang Asem dan tempe kedelai sama es Dawet. Wuiihhh enake, sayang di Jakarta nggak ada yang jual. Harganya cukup murah, 200 perak, gorengan 100 perak. Pokoknya dulu dikasih uang jajan 10 ribu pas Di SMA (diluar uang kost), masih sisa banyak. Sragen, memang surga makanan murah.

Iwak Minil, begitulah kalau menyebut daging rendang yang dijual oleh Mbah Minil. Minil sebenarnya bukan nama asli Si Embah tersebut, nama aslinya adalah si Mbah Mangun. Nggak tahu darimana sebutan tersebut. Iwak Minil terasa sangat enak sekali, maklum jaman dulu makan daging sapi adalah kebanggaan dan kesenangan tersendiri. Ketika kecil, makan telur ceplok aja dibagi dua. Telur dadar dibagi empat, sampai kayak kertas tuh telor. Tipis. Jadi ingat zaman susah. Beli nasi pecel 250 perak sama lauk tahu. Beli lima ratus perak pakai daging sapi. Kebayang lezatnya ketika makan nasi pecel sama daging sapi. Pernah ada cerita dari Simbah Putriku yang pada waktu itu sedang mampir di warungnya Mbah Minil. Ada seorang simbah-simbah dari desa mampir ke warung, setelah masuk ke warung si embah tersebut mengatakan, kulo badhe tumbas iwak minil,“( saya mau beli daging minil) hal tersebut dikatakan dengan muka polos dan tanpa bersalah. Kontan saja si Embah Minil agak naik ½ oktaf nadanya, agak-agak ketus. „ Mbah, di sini nggak jual iwak minil…Minil itu nama julukan saya, belum disembelih orangnya masih hidup!!“ Melihat insiden tersebut, Mbah Putriku kontan tertawa terbahak-bahak melihat insiden keluguan si embah dari desa tersebut. Usut punya usut, Si Mbah Minil kurang suka kalau dipanggil dengan nama tersebut. Simbah dari desa tersebut tetap pasang ekspresi lempeng dot com. Nasib,,,,,


Bregedel alias Perkedel, Makanan sepanjang masa. Aku penggemar makanan ini hingga lulus SMP, setelah itu, masih suka tapi nggak ngefans ngefans banget. Bregedel kentang, saking sukanya aku dah bisa masak sendiri dari ketika aku SD. Koki cilik, sudah bisa masak bergedel dan sayur Sop. Dari uji coba dan akhirnya kaulah juaranya, he..he.. Paling bisa kalau disuruh bikin bregedel. Kalau bikin sayur sop masih sering gagal, karena kebanyakan merica jadinya item. Ternyata, rahasianya kalau masak sop mericanya tidak boleh digosngso atau dimasukkan ke dalam masakan, cukup ditumbuk dikasih air dan airnya saja yang dimasukkan ke dalam adonan. Jadi nggak item deh. Sssttt…aku baru tahu setelah lulus kuliah lho, sebelumnya item terus. Temanku satu kontrakan dulu masak sop pakai ketumbar. Saking Pe Denya merica dikira ketumbar. Batal deh makan sop, soalnya sopnya jadi wangi. Ada cerita lucu tentang bregedel, pas lebaran di tempat nenek di Malang Selatan, nenek punya banyak kentang. So, cucu-cucunya yang Bengal ini minta dibuatkan bregedel. Ok lah, si Embah setuju. Kemudian, selepas main pulanglah kita cucu-cucunya (aku dan keponakanku). Sudah terbayang bregedel kesukaanku. Yup, sangat menggoda selera nih. 1..2..3, serbu…semangat 45 mengambil nasi dan lauk bregedel, ayam dan sebagainya. Dan eits..tunggu..tungggu.., kok ada yang aneh dengan bregedelnya ya? Rasanya nggak gurih tapi gimana ya? Berat rasanya mendeskripsikan nih rasa, usut punya usut ternyata bregedelnya bregedel campur Bo! iya, campur Bothe alias talas. Duh simbah….sama cucunya masih perhitungan, seumur-umur makan bregedel campuran Bothe, ampun dech. Aduh Biyung. Dengan sedikit dongkol, aku masuk dapur dan beraksi bikin bregedel ala cheft Adi, dan 30 menit kemudian, jadilah…bregedel kentang telur ala cheft Adi this is it…….sekejap langsung ludes, siapa dulu dong…..


Rempah, Makanan ini hampir sama dengan perkedel Cuma bahan dasarnya bukan dari kentang akan tetapi dari parutan kelapa. Ketika aku lagi manic-maniaknya dengan perkedel makanan ini menjadi musuh besarku, karena aku bener-bener gak suka rasanya. Biasanya Ibu akan mengganti menu perkedel dengan rempah, hanya untuk selingan. Dan biasanya aku ngambek makan, karena menurutku rempah tidak nyambung kalau dipasangkan dengan sop.

Blondo, He.he…namanya lucu ya, Blondo..ini bahasa Indonesianya adalah tahi minyak. Makanan ini diperoleh dari proses pembuatan minyak kelapa. Ampasnya minyak kelapa ketika santan direbus hingga menghasilkan minyak. Rasanya full lemak dan gurih banget. Kalori tinggi Bro! Makan sesendok dua sendok masih enak, lama kelamaan eneg. So, kalau mau makan Blondo tidak usah banyak-banyak, jadi tidak enak kalau kebanyakan.

Balung Kethek. Dalam Bahasa kita menyebutnya tulang kera. Bukan asli dari tulang kera lho, ini makanan dari sejenis singkong yang digoreng menjadi stick keras dan diberi gula jawa. Aku kurang begitu suka dengan makanan ini, lebih enak keripik singkong.

Timus, Makanan dari Ubi jalar yang ditumbuk dan dikasih gula kemudian digoreng. Pada dasarnya aku memang males dengan makanan yang berbahan dasar Ubi karena bikin kenyang, oleh karena itu makanan ini menjadi pilihan untuk dimakan kalau sudah tidak ada makanan yang lain.

Lentho, Lentho biasanya akan bersanding dengan timus. Kayak sebelass dua belas gitu lah. Dimana ada timus biasanya akan ada lentho. Makanan lentho rasanya lebih gurih karena ada kacang tolo dan campuran bahan-bahan lain yang aku sendiri tidak tahu (tahunya makan doang). Lentho biasanya jadi campuran untuk makanan-makanan lain dengan diiris-iris dan dicampur dengan aneka masakan untuk lauknya. Lumayan, pengganti bakwan.

Sambel Bajak. Sambel Bajak adalah sambel Favoriteku hingga aku beranjak remaja. Merah pedas dan ada campuran petenya lho. Pada dasarnya aku kurang suka dengan makanan pedas, aku lebih suka makanan tidak pedas dan cenderung manis. Sambel bajak ini walaupun pedas aku sangat suka apalagi makannya dengan telor ceplok, tahu dan tempe. Sekarang hamper tidak pernah memasak sambel bajak lagi, lebih banyak sambel tumpang.

Arem-Arem, Banyak yang menyebutnya lontong. Kalau di daeerahku lontong tidak ada isinya, kalau arem-arem ada isinya. Yang paling umum isinya adalah tempe, tahu, sambel goreng ati dicampur kentang, bahkan terkadang telor. Karena membikin kenyang, makanan ini sering disajikan pas ada acara-acara di manapun dari acara perspisahan SD, Nikahan, halal Bi Halal, sampai acara universitaspun makanan ini masih sering muncul. Kayaknya makanan ini dianggap praktis karena ibarat nasi bungkus mini dengan lauknya. Ketika laper makanan ini terasa enak banget.

Kacang Klici. Aneh ya namanya, sebenarnya makanan ini biasa kita sebut dengan kacang bawang. Nggak tahu namanya jadi klici gitu apa karena jadi makanan kelinci atau gimana? Makanan ini hampir selalu ada si setiap meja tamu ketika lebaran. Ketika memasaknyapun ada triknya sehingga tidak terlalu keras. Salah satu caranya dengan direbus sebentar sebelum digoreng kacangnya. Pas direbus dikasih garam biar gurihnya lebih terasa. Kalau tidak direbus dulu jadi atozzzz….o..ya selain itu bagi anda yang diet kalau makan makanan ini harus hati-hati, biasanya kalau sudah asyik makan lupa diri dan satu toples bisa habis sendiri. Walah walah…

Kacang Kapri. Ini adalah salah satu kacang favoritku. Kacang ercis, warnanya ijo royo royo. Sampai sekarang makanan ini bagai candu di lidahku, kalau sudah ngemil nih kacang biasanya susah berhenti. Gurihnya terasa hingga berhari-hari (kalau yang ini hiperbola aja…)

Ganjel Rel. Nama makanan ini sungguh aneh ya. Pas, Ospek mahasiswa dulu senior menugaskan untuk mencari ganjel rel. Dari situlah aku tahu namanya roti ganjel rel. Menurutku rasanya enak but aku tidak tahu bahan dasarnya. Pas disuruh mencari aku cuma ngandelin dari teman mungkin ada yang bawa lebih, soalnya males kalau harus nyari hingga pasar johar. Bisa kesesat aku di Johar. Mending dihukum sajalah. Dan pas hari pengumpulan, ada teman yang membawa ganjel rel se -tas kresek besar, tinggal minta dan bereslah.

Sambel Kluwak. Sambel ini sangat diminati oleh adikku. Aku sendiri kurang begitu suka, rasanya biasa saja dan kadang cenderung pahit. So, aku lebih ngefans sama sambel Bajak daripada sambel kluwak. Lagi lagi masalah selera. Yang aku herankan, adikku dulu sangat suka makanan yang item-item, dari bubur sampai sambel. Emang sih dari kecil emang dia yang paling item sekeluarga, menghayati peran kali dia…

Gado-Gado. Di kampungku dulu, gado-gado yang terkenal karena enak dan murah adalah gado-gado Mbak Supi. Dari aku SD hingga aku kuliah masih bertahan dengan jualan gado-gadonya. Kuat ya bertahan. Gado-gado tiap daerah ternyata berbeda-beda. Gado-gado Mbak Supi adalah campuran sayuran dan sambel kacang tahu dan tempe, sama dengan gado-gado jakarta. Di Solo Gado gado itu terdiri dari kentang, telor, kubis, buncis, tahu, tempe, telor, aneka kerupuk, tomat dan disiram sambel kacang yang telah dicampur santan. Gado-gado di Jakarta disebut pecel ulek, sejenis loteknya Jogja. Di Surabaya gado-gadonya sejenis rujak petis, lain ladang lain belalang gitu..

Sate Halok. Sebenarnya ini adalah sate ayam Madura yang dijual oleh orang Madura yang menjajakan dengan berkeliling kampung, dengan satenya disunggi di atas kepala. Nama halok adalah sebutan dari aku dan teman-temanku pada penjualnya yang asli Madura dan kurang bisa berbahasa jawa. Suatu ketika ada seorang temanku yang sedang makan buah jambu air di pinggir jalan, saat itu si Mbak penjual satenya yang asli Madura melintas di depannya. Mungkin karena tergiur dengan jambu air yang Nampak segar, si penjual sate berhenti dan berkata Halok…Halok…sambil menengadahkan tangan. Yang dimaksud si embaknya tadi sebenarnya adalah “Njaluk” yang artinya minta, karena nggak biasa bahasa jawa ia kepleset dengan menyebut halok. Kontan saja temenku tadi yang usianya sekitar 8 tahunan berlari karena ketakutan. Sejak saat itu aku dan teman-temanku menyebutnya dengan sate halok. Dan sering buat bercandaan kalau pas mbaknya lewat ‚ eh..lihat tuh ada sate halok lewat..sate halok lewat, dengan gaya khas anak-anak yang niatnya meledek . Duh kasian Mbak Sate Haloknya, udah hitam, kurus, satenya jarang laku lagi, soalnya rasanya tidak sesuai dengan lidah orang kampung tempatku .

Itulah sekelumit makanan-makanan sejarah dari aku kecil hingga aku kerja sekarang ini. Memang terlalu manis untuk dilupakan. Kalau balik kampung pingin rasanya makan semua makanan yang kumau, but badanku gak bisa diajak kompromi, makan over sedikit dari kebiasaaan langsung diare. Makan kalori sedikit lebih banyak, langsung melar. Nasib nasib punya badan yang gampang membesar ke samping…



Kamis, 30 September 2010

Aneka Makanan Tradisional


2 Hari yang lalu sempet aku ledek-ledekan via SMS dengan temanku mengenai jajanan tradisonal. Mengingat banyak orang jaman sekarang yang gengsinya tinggi ketika harus menyantap jajanan pasar, apalagi anak muda sekarang, sehingga jajanan pasar jadi turun pamor. Sebenarnya, jajanan pasar atau makanan tradisional tidak semuanya tidak enak rasanya. Banyak makanan tradisional yang terasa lezat di lidah mengalahi Bred Talk sekalipun. Karena gengsi-gengsian, maka makanan tradisonal tadi sering jadi bahan ledek-ledekan antara sobat karib yang sama-sama dari ndeso (biasanya karena sudah pada ngerti wujud makanannya). Dan sebenarnya, aku adalah salah satu makhluk yang sangat menyukai jajanan pasar, jajanan mantenan di kampung or jajanan ndeso dan sekelasnya. Karena sejak kecil sudah terbiasa dengan makanan yang sederhana dan sekarang mulai langka tersebut, membuat aku kadang rindu balik kampung hanya untuk menyantap yang namanya getuk warna coklat (nggak tahu namanya, yang ku tahu cuma getuk lindri doang yang berwarna-warni itu, kalau yang coklat nggak tahu namanya). Makanan tradisional kerap sekali nongol di mantenan di kampung. Lebih-lebih kalau hidangannya pakai sistem piring terbang. Biasanya dulu pas aku diajak Ibu jagong manten aku paling males menyentuhnya. Apalagi pas masih kecil, melihat jadah kayak nggak ada nafsu babar blas. Beranjak dewasa, baru aku bisa merasakan nikmatnya jadah. Apalagi pas anget, dibakar makan sama tempe dan karak. Mak Nyuss…
Buat temen-temen yang lahir dan besar di kote Jakarte, mungkin nggak biasa makan jajanan pasar. Biasa jalan di Mall dan disitu jarang dijual makanan kampung. So, aku punya list makanan tradisonal yang pernah mampir di mulutku dan masih terasa sampai sekarang enaknya, are you ready, here we go……jrengg…jrenngg…..duoorrr…….

Onde-Onde, Yang terkenal pada waktu kecil dulu adalah Onde-Ondenya Mbah Minil. Harganya 50 perak, isi kacang tolo. Murah dan enak kalau laper doang. Saking murahnya bisa buy one get one free lho…

Onde-Onde Cemplus, aku dan adikku yang menamai begitu, onde-onde keringlah, kecil-kecil dan atos/keras. Biasanya dijual Plastikan dan sudah dikemas.

Gandos, dari ketan dan berbalur gula pasir. Ada yang putih dan ada yang item, tergantung ketannya juga. Asli buatan Mbah Minil. 50 perak juga.

Gedhang goreng. Umum banget dimana-mana ada. Paling enak gedhang kepok atau raja.

Pia-pia, alias bakwan, alias ote-ote (Surabaya), alias Heci, alias Pizza ndeso. Paling enak dimakan sama pecel. 25 perak jaman dulu bisa dapet pecel pia-pia pincuk. Lezat.

Tahu susur. Tahu dengan isi sayuran, Cuma 50 perak. 3 tahunan yang lalu masih ada yang harganya 100 perak per piece di Pasar desaku. Amit-amit, ramban (metik di kebun sendiri) kali sayurannya, jatuhnya murah cing!

Gethuk. Bukan Gethuk Trio lho, kalau itu dari Magelang. Getuk coklat yang enak banget dan getuk lindri yang warna-warni. Tergantung selera. Harga terbaru 500 perak dapat satu bungkus.

Jenang sumsum. Bubur beras putih sama gula jawa, its my favorite pouridge pas aku TK dulu.

Jenang ireng. Ini kesukaan adikku, dulu paling hobbi makan jenang ketan item.

Jenang grendul. Mungkin karena ada grendul2nya atau bulet-buletnya. Bahasa Jakartanya sih Bubur Candil (kayak namanya penyanyi yo). Pas TK hobi sekali makan Jenang ini dan sampai sekarang tetep suka.

Sawut. Adalah makanan telo diparut dikukus dan diberi gula jawa. Blenyek..blenyek enak!

Cenil. Bulat, kenyil-kenyil, warna-warni, dari ketela. Makannya pakai gula pasir dan parutan kelapa.

Klenyem. Dari namanya kelihatan ndesone poll. Ketela diparut kemudian dicampur kelapa, dibulat-bulat kasih gula merah. Gorenglah….

Klepon. Hijau, manis, ada gula jawanya. Ditaburi kelapa. Dulu ada embah-embah yang jualan lewat depan rumah. Sekarang masih hidup nggak Ya? Saking senengnya ama klepon, pas SD dulu seneng eksperimen bikin nih kue dan jadinya enak abis, this is it….

Ketan. Pernah ada cerita simbah-simbah jualan ketan di depan SD sekolah dulu, habis makan daunnya suruh mengembalikan buat yang lain. Amit-amit, jualan kok nggak modal yo Mbah.

Lopis. Nah, ini pasangannya ketan. Enak, manis, guruh, pakai gula jawa cair.

Jadah or gemblong, terbuat dari ketan, biasanya dibuat pas ada mantenan or sunantan. Umum bangetlah…paling enak pas anget dan dibakar. Paling nggak enak pas atos!

Jenang. Udah bikinnya lama, pakai ngaduk-aduknya di wajan yang supergede, makanan ini sudah umum banget pas mantenan. Terasa enak ya pas lapar. Tetep..

Kemplang. Pernah denger but kayaknya belum pernah makan (???) Ini julukannya temannya masku dulu, karena Ibunya jualan kemplang, ih jahat yoo.

Salome. Inilah makanan asli tidak sehat babar blaz. Salome (bukan satu lubang rame-rame lho) alias cilok adalah makanan yang dibuat dari tepung pati dan dibulet-bulet kayak bakso. Campurannya MSG, sedikit telor dan apalagi ya?? Dicelup ke saos botolan gandaria yang nggak jelas bahan dan sangat banyak pengawetnya. Dasar anak-anak, sudah digigit kadang dicelup lagi ke wadah saosnya. Dulu kok aku doyan yo? Saking ngefansnya, pernah aku bikin sendiri di rumah. Tahu nggak rasanya, kenyal kayak bola bekel karena kebanyakan pati kanji. Dasar koki amatiran..

Grontol. Awas jangan kepeleset nyebutnya ya.., nih makanan simple banget sebenarnya. Jagung direbus dikasih garam sama kelapa dan gula pasir. Siap disantap.

Madu mongso. Makanan khas Bu Puh Karno tetanggaku dulu. Tiap lebaran bikinnya pasti madu mongso, ssttt sampai sekarang masih lho…

Karak. Ini adalah kerupuk nasi, nasi yang diberi bleng dan kemudian digoreng jadi kerupuk. Dulu pas SD, di warungnya Bu Tum dijual dengan harga 25 dapat 2 potong plus sambel tumpang di atasnya. Enak lho…

Peyek sambel. Sama kayak karak sambel, Cuma pakai sambel kacang. Peyeknya tepung doang, nggak ada kacangnya. Maklum Bu, 25 perak thok.

Cao. Minuman yang asli nggak sehat. Soalnya buatnya di ember pakai celana (maksudnya penjualnya yang pakai celana), pakai sumba (pewarna yang susah hilang kalau kena tangan atau teres orang biasa menyebutnya) dan pakai sari manis atau natrium siklamat. Kalau misalnya aku disuruh minum sekarang dibayar seratus ribu tentu aku pikir-pikir dulu, kalau satu juta, langsung mau dech, He..he..Dulu nih minuman terasa enak banget, apalagi habis lari-larian kemudian minum caonya Yu Ni di warung belakang sekolah. Dasar anak-anak, nggak ngerti kanker. Harganya Cuma 25 perak segelas. Ssttttt, gelasnya kadang nggak dicuci lho, karena saking ramenya tuh warung. Aku saksi hidup.

Ice Juice kacang ijo dan tape. Sudah jadi rahasia umum, kalau airnya ngambil dari kamar mandi di SDku dulu. Pagi-pagi, penjualnya bawa ember ketika masih belum ada siswa, ngambil air di kamar mandi siswa yang butek dan kotor, kemudian dituang ke wadah buat jadi air putih pencampur es kacang ijo dan es tape. Hiiii….hiiii…, dasar anak-anak sudah tahu kayak gitu masih nekat aja beli, dan ngantre lagi belinya. Maklum, anak-anak desa lihat Blender udah kayak barang aneh. Harganya Cuma 50 perak, hingga aku lulus SD. Warung es depan sekolahku ini cukup lama bertahan dengan air mentahnya, sekarang udah nggak ada lagi. Syukurlah…

Tape singkong. Dijual di pasar, beli seratus dapat sak ndayak koplak. Murah, paling enak ya digoreng.

Rondo royal. Itu tadi tape yang digoreng, kok namanya rondo royal gitu ya???

Tape ketan hitam. Ini jajanan pas nikahan desa. Di Display di meja, sama dikasih sendok kecil2. Kalau pingin tinggal buka daunnya dan makanlah dengan tidak bersamaan daunnya.

Putu ayu. Kayak sejenis mie yang panjang-panjang dan diberi kelapa. Dulu aku ingat yang jualan agak nuwun sewu, budi alias budek dikit alias tuna rungu, sehingga harus teriak-teriak kalau mau manggil buat beli.

Suweg. Inilah makanan kesukaan simbah putriku. Makanan yang asli bikin kenyang karena karbohidrat doang. Nggak tahu enaknya dimana, sampai simbah-simbah jaman dulu ngefans banget. Beli 200 perak bisa dapet satu piring penuh, warnanya yang kekuningan, cukup menggoda tapi buatku nggak enak, bikin kenyang. Biasanya pas pertandingan voli antar desa, julukan buat tim yang datang dari pelosok kecamatan, anggun (anak nggunung) adalah tim dengan kebanyakan makan suweg, so bodo..he..he…dasar anak kecamatan, otaknya juga bebal aja belagu…

Gembili, lupa pernah makan apa belum ya, kayaknya sejenis umbi-umbian yang nggak ada rasanya kecuali bikin kenyang dan bikin kentut..

Entik, inilah paket makanan khas ndeso yang sering jadi bahan olok-olkan dulu. Dasar lu kebanyakan makan suweg, gembili, sama entik. Inilah ejekan untuk teman-teman yang bodonya nggak ketulungan.

Es Lilin. 50 perak, bisa beli es warna-warni hiiiii……..

Es Setrup. Aku paling seneng sama es setrup ini, karena warnanya yang ngejreng dan menggoda selera anak-anak. Sehat nomor sewidak rolas, yang penting enak dengan warna merah membabi buta. Cuma 50 perak segelas.

Es Temu lawak. Nggak jelas nih minuman. Seratus perak dalam kemasan botol-botol kecil 300 mL an, buatan Solo. Mizonenya jaman dulu kali ya. Rasanya beraneka ragam dari rasa sprite, strawberi, jeruk, jambu bahkan sampai rasa salak. Kebayang nggak minuman rasa salak. Untung nggak ada minuman rasa sawo sekaliian. Amit-amit deh. Aku yakin pengawetnya se Indonesia raya karena saking banyaknya. Kok dulu nggak ada yang ngelarang ya minum kayak begituan. Huu,…hu…., aku berjanji, anakku kelak nggak ada yang makan makanan sampah dan minuman racun kayak bapaknya dulu, titik!

Jamu “Uyuh Jaran”. Ini sih manisan, namanya aja dibikin jamu uyuh jaran (dalam bahasa Indonesia artinya Jamu kencing Kuda), namanya norak banget ya, mentang-mentang warnanya kuning kayak urin, kemudian sama penjualnya diberi nama jamu uyuh jaran. 50 perak dapat seplastik kecil.Untung namanya bukan jamu uyuh prawan.pheww..phweww….

Jamu kunir asem, ini nih minuman favoritku sampai saat ini. Segar dan ada kecut-kecutnya dikit. Memperlancar Haid katanya, untung aku nggak haid, trus untuk cowok memperlancar apa ya?

Jamu Beras Kencur, “Jamunya jeng, jamu beras kencur biar badan gemuk subur.” Enak, apalagi pas anget-anget.

Jamu Cabe Puyeng. Nih jamu terasa panas di badan, Si Niken dulu teman mainku yang mengajarkan aku untuk minum nih jamu. Ketahuan Bapak, dilarang, karena bikin badan panas. Takutnya ada campuran obat-obatnya. Nurut lah, rasanya juga pahit, nggak selera.

Rengginang. Kerupuk dari beras atau beras ketan yo? Nggak ngerti aku. Enak kalau tidak sering-sering dan kondisi perut laper. Makanan ini mood2 an juga, kadang ada yang enak banget dan kadang kebalikannya.

Semprong. Bentuknya panjang-panjang. Dari tepung kanji apo telo yo? Rasanya tidak begitu enak buatku sekali dua kali makan sudah cukup. Rasanya biasa banget.

Trowolo. Kerupuk telo berwarna warni dan biasanya pada acara sunatan atau mantenan. Ada yang coklat polos dan ada yang berwarna. Males banget makannya kalau nggak kepaksa. Enakan makan peyek. Herannya kok masih banyak dulu yang bikin nih kerupuk. Lokaaalllll bangetttttt…..

Marneng. Jagung digoreng, kriuk…kriuk..ada yang dijual plastik kecil-kecil. Atoz Bro…..

Trembesi. Item, kecil, bikin flatus. Harganya murah banget, 25 dapat seplastik kecil. Bisa satu jam makannya, karena susah dibuka. Sekarang mulai langka. Biasanya yang jual, simbah-simbah tua duduk si tikar sambil bawa lampu teplok. Kasian ya Simbahnya. Kalao Makan bikin rahang pegel lho…

Kwaci. Isi semangka atau biji bunga matahari, sering diplesetkan kwaciaannnnn dech lu…., murah meriah. Kwaci bunga matahari hanya 50 perak, di warungnya Bu Ndari.

Kembang Goyang. Nih makanan tradisional tapi bikinnya gak susah, karena pakai dicetak—cetak segala. Rasanya sih lumayan enak dan makannya harus bener2 pas lapar, biar bisa menghayati.

Iwel-iwel. Dibungkus daun pisang, komposisine nggak tahu. Isinya ada kelapa, gula merah, kayake tepung beras opo yo?

Utri, nih makanan enak, murah dan bikin kenyang. Dari ketela kayaknya diibungkus daun pisang dan apalagi ya bahannya? Lupa?

Wajik. Dari ketan yang rasanya manis. Umumnya warnanya merah karena gula jawa, hijau, dan yang bikin males makannya kalo dikasih warna pink, valentine kali ya????

Gatot, nih makanan namanya kayak temen ngajiku dulu. Tega nih Ibunya ngasih nama anaknya persis nama makanan dari ketela. Mbok ya ngasih nama yang keren sekalian seperti Black Forest, Clappertart, brownies biar kebarat-baratan gitu. Untung Cuma gatot, kalau dikasih nama getuk gimana coba, apalagi dikasih nama suweg. Kasihan anaknya pas gede nanti, cakep-cakep namanya “ Mr. Suweg Samiwareg Saputro”, duh kalau aku yang punya nama udah tak ganti di depan notaris! Tak bikin selametan bubur merah dan bubur putih langsung!

Apem, Simbah putriku hobi banget nih bikin kue apem. Kalau nggak pinter bikinya tentu gosong bawahnya. Rasanya biasa banget kalao nggak ada campurannya. Kalu mau modal dikit suruh orang bikinin dikasih nangka dikit, santannya dibanyakin, rasanya hampir kayak serabi. Semuanya tergantung modal Bro!

Cipiran. Bahannya dari tepung, telur, mentega dll. Digoreng dan disajikan pas acara sunantan adikku dulu. Bentunya panjang-panjang bergerigi dan rasanya gurih-gurih eneg kalo kebanyakan. So jangan banyak-banyak, kalorinya lumayan lho!

Karuk. Ini nasi yang dikeringkan, kemudian dijemur dan digoreng. Dicampur gula jawa biar manis. But, aku nggak suka nih makanan. Bikin kenyang rasanya nggak seberapa. Di jual 25 perak di warung belakang sekolah.

Tiwul, adalah makanan dari gaplek. Representasi dari makanan orang nggak punya. Sebenarnya enak nih makanan, apalagi dicampur sama getuk coklat, hmmmmm...

Gendar. Nasi, dikasih obat bleng, diperam semalam dan besoknya udah jadi kayak kue. Tinggal dipotong-potong, makannya sama pecel jadilah gendar pecel. Kalau makannya sama kinco maka jadilah gendar kinco. (Aku makan makanan ini pas di Semarang), 500 perak awal tahun 2000an.

Jemblem, dari namanya udah nggak keren. Sejenis gethuk kalo nggak salah. Kalau salah mohon dimaafkan.

Gembuk. Dari ampas tahu, babar blaz nggak ada gizinya. Murah mbakyu, 25 perak dulu pas aku SD. Aku kurang suka sama gembuk, ora enak. Membuat kenyang.

Sambel tumpang. Aku seneng banget sama sambel tumpang sejak SMA, dulu Mbak Iin pemilik kost memberi tahu bahwa untuk makan sambel tumpang yang enak, biarkan sambel tumpang sama nasi panas hingga menggumpal terlebih dahulu, so ambil nasi panas beri sambel tumpang, bungkus dan diamkan 3-4 jam. Lalu makanlah, lebih enak pren. Tahu nggak, ternyata makanan ini hanya popular di daerah Solo, Sragen, Ngawi, Madiun ke Timur sampai Suroboyo. Pas kuliah dulu, pada waktu profesi di Jepara, aku pernah masak sambel Tumpang di Posko. Anak-anak pada jijik dan heran kali ya. Kok ada tempe busuk dimasak dibikin sambel. Anak-anak daerah semarang, Jogja ke barat, pantura, nggak familiar dengan nih masakan. Aduh kasian banget ya, lha wong rasanya ueeennaaakkkk poll. Aroma tempe busuknya menambah selera. Pernah saking jijiknya, sambel tumpangku dibuang sama temanku satu posko. Duh nasib. Selera eksotik pada nggak ada yang tahu.

Sego Gogik. Mbahku dulu yang pernah makan. Kayaknya nih nasi sudah punah ya. Kayak harimau jawa saja sudah punah.

Doreaki. Apa nama aslinya nggak paham, aku sama adikku selalu menyebut roti sejenis bolu yang bentuknya temben dengan sebuatan doreaki. Terinspirasi dari doraemon tentunya. Ntarlah, kalau pulang ke Jawa aku cari tahu.

Putu. Makanan dari tepung beras, kelapa, dan gula jawa ini enak kalau lagi anget. Dikukus di dalam bamboo dan diuap. Sekarang masih banyak dijual dijalan-jalan.

Es Potong. Sepotong harganya 25 perak, susahnya kalau dapat potongan di tengah, soale nggak ada pegangan plastiknya. Biar ada pegangnnya, maka beli 50 perak. Separo, ada pegangannya dan nggak takut jatuh itu es. Pas TK, aku masih ingat bahwa temanku dulu ada yang menanyakan ke penjual es potong. Mbah, niki banyu mateng to Mbah?(maksudnya esnya air matang atau air mentah). Nggak mungkinkah penjual mau jawab “iyo le iki banyu mentah” (Iya Nak, ini air mentah). Pertanyaan aneh, maklum anak TK, yang tak herankan sih Bapak Ibunya. Kok nggak bisa ngajarin anaknya supaya pinter memfilter sesuatu, ceillee, anak TK disuruh memfilter. Aku ngomong kayak gini karena aku sudah sarjana lho he..he…he…

Es Tong-Tong. Karena penjualnya memakai kenongan yang bunyinya tong..tong…gitu, so namanya es tong-tong. Coba kalau penjualnya bawa bedug, mungkin namanya bukan es tong-tong tapi es dug dug kali ya. Takutnya penjualnya bawa simbal, bisa jadi es blezz…..blez…….blez…….apalagi kalao bawa kentongan, jadinya es tretok..tok…tok……tok……

Brondong. Makanan yang super nggak enak, karena nggak ada rasanya. Di pasar malem biasanya dijual dan dibentuk menjadi sepeda, boneka dll. Bentuknya sih unik, rasanya nggak jamin deh. Lebih enak popcorn jauh (ya iyalahhhhhhhhh).

Nogosari. Ini makanan yang umum kalau ada snack pas ada acara syukuran RT, arisan, Perpisahan, Kenduri, Ulang Tahun dll. Tepung isinya pisang dibungkus daun pisang. Gurih, but bikin kenyang.

Bolu kukus. Aku pernah protes sama Ibu, dimana ibu pada waktu itu lagi gemar-gemarnya belajar bikin kue. Kebangetannya kok yang dibikin itu Bolu kukus sama pukis terus. Sampai bosen dan sampai sekarangpun nggak doyan. Gimana nggak bosen, ada acara arisan bikin bolu kukus, ada tetangga yang nikah, bikin bolu kukus, ada acara keluarga ngumpul bikin bolu kukus lagi. Waduh rek, mending kalau bolu kukus itu enak. Udah bikin kenyang, seringnya helm-an karena tidak mau ngembang. Jadi plontos kayak apem. Duh, kalau udah helm-an gitu berarti produk gagal. Siap-siap disortir dan dibuang kedalam perut. Perutku, no way!!!

Pukis. Nih sama karekteristiknya dengan bolu kukus. Bahannya hampir sama. Kalau pukis masih mending enak, apalgi kalau telur sama menteganya banyak. Apalagi pas hangat. Sempet kuprotes juga karena bosen dengan si pukis ini.

Lumpia, Ini adalah salah satu makanan favoritku sampai saat ini. Walaupun setiap ada acara keluarga Ibuku selalu membuatnya untuk hidangan, aku tidak pernah bosan sampai detik ini. Lumpia masuk dalam kategori gorengan dan isinya adalah rebung yang diiris kecil, telor dan sayuran dan ayam. Rasanya yang gurih, asin membuat aku selalu ketagihan. Lumpia buatan ibuku lebih enak dari lonpia semarang sekalipun. Sayang tidak dikomersilkan.

Cantik Manis, Makanan ini juga sering nongol di hajatan keluarga, arisan dan acara-acara lainnya di lingkunganku. Terbuat dari tepung sagu mutiara dan dalamnya berisi pisang. Persis kayak nagasari cuma pakai tepung sagu mutiara saja.

Mendut. Ibu hobi sekali dalam membuat kue ini. Rasanya yang manis dan lengket sangat nikmat apabila dimakan dengan minum teh panas. Isinya enten-enten atau adonan parutan kelapa yang dicampur gula dan dimasak. Kulitnya terbuat dari adonan beras ketan dan santan. Kemudian dibungkus sama daun pisang dan dikukus, ready to serve.

Kik. He..he.., namanya sebenarnya cake! Tapi namanya anak kampung, pas praktek keterampilan masak, menyebutnya kue kik, bukan cake! Aku kenal kue ini ketika kelompok masakku berdebat tentang makanan apa yang akan dibuat pas ujian praktek (EBTA Praktek SD) nanti. Aku bersikukuh mau membuat klepon, but ditolak sama teman2 lainnya. Kemudian usulku berpindah ke lompia (my favorite too), but ternyata ditolak karena butuh 2 kompor (males bawanya!). Temanku juga bersikukuh hendak membuat kue Kik katanya? Kik?? Wonder juga nih. Kayak apa nih kue. Kata temenku yang juga anak guru SD tersebut kue ini enak dan bikinnya nggak terlalu susah, apalagi si Ibu anak tersebut akan membantu membuatnya as a consultan gitu loh. Ya udah lah, buat Kik (walaupun aku nggak begitu suka Roti). Ternyata bikinnya pakai oven juga, untung kelompok lain ada yang bawa oven, sehingga bisa share. Sempet numplek di oven nih kue, gagal gara-gara ovennya dipindah-pindah. Nasib, akhirnya bikin lagi. Pas penyajian memang agak kehitaman, gosong-gosong pahit dengan sukade (butiran dari pepaya yang diawetka) berwarna-warni. Lumayanlah, bikin kue kik kreasi anak-anak SD kampung. Ini masih lumayan dibanding kelompok lain yang coba bikin kue tart yang nggak jadi, soalnya butter creamnya nggak bisa pas, maklum amatiran. Lebih-lebih lagi, kuenya nggak bisa ditumplek, lengket cing. Namanya saja keren, kue kasih sayang. Malah jadinya kue kasihaannnnn deh Lu! Dalam hati meledek, jahat ya..masalahnya temanku itu otodidak dari resep di majalah. Udah anak SD, amatir, lihat resep lagi. Duh. Ada kisah kelompok lain yang didominasi cowok. Kebayang nggak, udah anak SD, amatir, kelompoknya cowok semua Cuma ada 1 cewek dan itu pendiam banget, kalau nggak dicolek nggak bakal ngomong. Akhirnya dengan berbekal buku resep masakan mereka mencoba kreasi makanan baru dari buku resep. Sim salabim, bagus cing hasilnya. Nggak tahu pasti nama kuenya, komposisinya dari buah sirsat juga kayaknya. Penampakannya warna hijau segar dan bagus pas dicetak seperti kue tart. Selidik punya selidik, rasanya…hoeeekkkkk pahit banget…nah lo, penampilan menipu. Dasar anak SD jadinya langsung meledek. “Kok pahit gini ya”, kataku sambil senyum-senyum penuh arti. “Biarin, yang penting yang dibawa ke kantor guru bukan ini, tapi timpan” (makanan khas aceh, maklum ketua kelompoknya keturunan aceh). Untung dia masih baik, bukan kue pahit tersebut yang diserve ke kantor guru. Tapi timpannya. Sampai saat ini aku masih penasaran dengan nih makanan, dari apa terbuatnya dan bagaimana rasanya?

Bersambung.................

Kaki lima


Aku memang terlahir sebagai anak desa, lahir dan dibesarkan di sebuah desa di kaki gunung Lawu di perbatasan Jatim dan Jateng. Sejak SD hingga SMP aku mengenyam pendidikan di kecamatan, pada waktu SMA baru aku sekolah di Kabupaten. Sebagai anak desa aku senantiasa dikenalkan dengan namanya konsep kesederhanaan. Bapakku selalu memberi teladan tentang kesederhanaan yang begitu sangat beliau pegang dan juga di tanamkan dalam keluarga. Misalnya, Bapak tidak pernah mengajari anaknya untuk makan di restoran-restoran mewah ketika bepergian, walaupun sebenarnya Bapak mampu untuk membayar harga makanan tersebut. Oleh karena itu aku sangat terbiasa makan yang di kaki lima, warung-warung kecil di pinggir jalan, warung-warung tenda dan sejenisnya. Hingga dulu pernah aku dan Ibu berkompromi untuk menyindir Bapak ketika hendak makan dalam perjalanan ke Malang kampung halaman Bapak. Pasti deh kaki lima, dan ternyata memang benar. Bapak Cuma tersenyum ,kaki lima juga enak kok. Asalkan pas milihnya, kata Bapak kala itu, yah kaki lima lagi.
Ajaran Bapak yang selalu mengajak kami anak-anaknya untuk tidak bermewah-mewahan menjadikan aku terbiasa makan di kaki lima. Buat aku, kaki lima bukannya tidak enak, akan tetapi menawarkan sajian yang sederhana, murah dan sangat familiar di lidah. Sekelas warteg dan warsun juga. Satu hal yang memang agak susah diprediksi adalah kebersihannya. Memang itulah yang menjadi masalah utama dalam sebuah warung makan sekelas warteg, warsun, kaki lima, lesehan, warung padang dsb. Menyantap hidangan rumahan buat aku memang terasa nikmat apalagi tersedia aneka sayur dan lauk pauk yang terbuat dari kedelai. Ibuku sangat mengerti seleraku ketika aku balik kampung. Sayur adalah salah satu makanan yang sangat kusuka, disamping telur dadar, tahu, tempe, udang. Makanan tersebut sangat pas komposisinya dalam sebuah hidangan, apalagi ditambah dengan kecap manis dan kerupuk. Dan aku tidak begitu suka sambel, kecuali sambel tumpang, sambel kacang dan sambel bajak.
Dalam memilih makanan, aku memang tidak begitu pemilih. Kaki lima, kucingan/angkringan, warung sunda, adalah tempat makan favoritku sampai kini. Kota yang menyajikan wisata kuliner yang pas dengan selera lidah dan kantongku adalah kota Solo. Nggak tahu kenapa, aku merasa solo menyajikan banyak makanan yang murah, enak, dan lumayan bergizi. Sehingga, ketika di Solo aku tidak segan-segan mampir dari satu angkringan ke angkringan yang lain. Yang biasa aku cari adalah gorengan. Gorengan tempe di Solo terasa paling lezat apalagi ditambah es teh tawar. Puas makannya dan murah harganya.
Sebagian temanku menganggap seleraku kampungan dan tidak higienis. Dan aku lagi-lagi tidak perduli, karena aku kembali pada prinsip bahwa selera tidak dapat diperdebatkan. Bagiku gorengan mendoan adalah sepuluh kali lebih nikmat dari namanya kepiting. Karena sampai saat ini aku belum bisa menemukan titik kenikmatan kepiting. Bagiku kepiting sangat biasa saja, kembali lagi sih pada selera. Seleraku kini dan nanti memang tidak akan berubah sedikitpun, mengingat aku sudah bertahan dengan seleraku seperti ini dalam kurun waktu 10 tahunan, so sudah mendarah daging. Seiring bertambah usia mungkin aku harus mengurangi yang namanya goreng-gorengan, risiko tinggi kolesterol. Untuk 3 tahun ke depan mungkin aku masih excuse. Semoga tidak ada masalah dengan kolesterolku, ya semoga….

Taksi

Taksi bagi aku adalah sebuah kendaraan yang mewah, disamping mahal dan hanya kalangan tertentu yang hobi menaikinya. Selain itu kalangan yang kepepet biasanya memilih transportasi ini. Taksi akan terasa sangat murah apabila kita naik berempat, so kalau dibagi rata patungannya tidak terasa gedhe. naik taksi adalah salah satu hal yang aku hindari kalau tidak kepepet, patungan atau dibiayai kantor. kalau dibiayai kantor aku agak sedikit lega, karena biaya yang dikeluarkan akan di klaim ke perusahaan. Naik taksi juga harus tahu minimal tujuannya dengan jelas, sehingga tidak dibawa wisata kota sama supirnya, dengan argo yang terus berjalan makan tagihannya juga akan membengkak. Kalau mau aman, boleh borongan. Sehingga dijamin akan lebih cepat dan tidak diputer-puter keliling kota, karena semakin lama berputer-puter maka sopirnya akan rugi sendiri. But, kita musti tahu standart taksinya berapa, sehingga jatuhnya tidak kemahalan banget.
Naik taksi ketika macet bisa membikin spot jantung. Apalagi kalau mau mengejar pesawat. Pengalaman naik taksi ke Bandara seorang diri dengan rute yang tidak jelas membuat keringat dingin mulai mengucur. Dari Ragunan yang seharusnya bisa lewat tol priok, aku memilih lewat BSD so, muter muter nggak karuan. Untung tidak macet, bagaimana seandainya macet di Serpong sampai Kebon nanas, bisa runyamkan? Untungnya nyampai Bandara pas 1 jam sebelum keberangkatan. Sialnya lagi, ternyata pesawatnya delay. udah keburu-buru, spot jantung ternyata delay. Pengumuman delaynyapun ½ jam sebelum take off. Tahu begitu aku nyantai-nyantai aja ya. Yow wis lah yang penting nggak ketinggalan pesawat.
Sekarang kalau naik taksi aku memilh yang resmi, soalnya tidak mau ambil risiko kalau ada apa-apa di jalan nggak bisa klaim ke mana-mana. Kalau seandainya ada kendaraan umum dari Ragunan ke Bandara, akan lebih aman kalau aku memilih naik angkot saja. masalahnya kalau naik angkot harus ke Blok M dulu dengan koper segedhe anakan bagong. Ribet. Pinginnya ketika nanti ada acara luar kota nggak sampai bawa koper segedhe Bagong, selain ribet akhirnya nggak bisa naik kendaraan umum, musti naik taksi. males banget, udah kayak orang kaya aja ya. Yah, begitulah, ada uang ada fasilitas. So, jadilah orang kaya yang kalau naik taksi nggak perlu pegel harus mantengin argo melulu.....

Rabu, 29 September 2010

BATAM DALAM KENANGAN





Ketika kudaratkan kaki di Hang Nadim
Kulihat Ribuan Wajah Penuh Cinta dan Harapan
Kerinduan akan sebuah tempat persinggahan
Di Tengah hiruk pikuk gemuruh panas pulau Batam

Itulah sepenggal lirik lagu nasyid milik Suara Persaudaraan dengan judul Bergegaslah. Sebuah lagu yang menginspirasi saya agar suatu saat bisa menjejakkan kaki di pulau Batam, sebuah pulau yang paling mendekati Singapura yang sedang berkembang pesat menjadi sebuah pulau Industri andalan Indonesia. Dari lirik lagu yang menceritakaan tentang banyaknya akhwat dan gadis-gadis di Batam, dimana sebagian besar dari mereka rindu akan pelabuhan hati atau pasangan hidupnya. Mungkin memang banyak perantauan yang datang ke kota Batam untuk mengadu nasib. Memang persepsi masyarakat yang mengatakan bahwa kalau sudah kerja di Batam ibarat kerja di luar negeri. Untuk standart gajipun lebih besar dari kota-kota yang lain, untuk sekelas pembantu rumah tangga bisa mencapai 1-1,2 juta, makan minum ditanggung majikan dan tidur disediakan. Kalau dibandingkan dengan gaji perawat di Jakarta yang fresh graduate hampir sama bahkan lebih besar pembantu rumah tangga di Batam. Di Jakarta saja, gaji perawat di Rumah sakit ada yang Cuma 700 ribu tambah dines malam. Jadi nggak nyampai satu jutaan dengan latar pendidikan D3. Lebih lebih lagi Perawat adalah profesi dengan risiko kerja yang sangat tinggi yang selalu kontak dengan cairan dan darah pasien, hal ini memiliki risiko penularan yang tinggi. Sungguh sebuah profesi yang terlupakan. Bahkan oleh perawat itu sendiri.
Anyway, berbicara masalah perawat akan jauh sekali hubungannya dengan apa yang akan aku ceritakan tentang pengalaman perjalananku kali ini. Batam dalam kenangan, sebuah judul yang aku ambil dari judul nasyid suara persaudaraan yang menceritakan tentang keindahan pulau batam dengan hijau alamnya dan pesona pemandangannya. Pertama kudaratkan kaki di Hang Nadim aku belum begitu merasakan pesona pulau yang mulai dikembangkan oleh Badan Otorita Batam sejak Tahun 1970 an ini. Terang saja, aku nyampai di kota Batam juga pada malam hari, sehingga yang nampak hanya gelap di sekitarku. Jalan-jalan yang halus menjadi salah satu indikasi bahwa pembangunan di kota Batam memang sedang digencar-gencarkan.
Aku ke Batam dalam rangka tugas dari Kantor. Terang saja aku senang sekali, karena Batam adalah pulau ke-2 di Indonesia yang ingin sekali aku kunjungi setelah Pulau Bali. Kalau ada rezeki pulau yang ke-3 yang ingin aku kunjungi adalah pulau Papua, So God Will. Dalam 5 hari aku berharap bisa melihat sekilas pesona Batam yang selama ini aku bayangkan identik dengan kemajuan yang berkontinuitas. Setelah check in di Hotel dan beristirahat, paginya aku sempatkan berjalan kaki mengelilingi kompleks sekitar Hotel. Sepintas memang tidak ada yang beda dengan kota-kota kecil lain di Pulau Jawa. Disini aku jarang sekali melihat angkot, persis kayak di Bali yang jarang Angkot. Selain itu jumlah pengendara sepeda motor juga tidak terlalu banyak. Tidak seperti di Jakarta ataupun di Bali.
Aktivitas kantor memaksaku untuk berjalan berkeliling-keliling kota Batam, dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain. Semakin siang kurasakan memang semakin panas. Persis kayak lagunya suara persaudaraan yang mensiratkan bahwa Batam berhawa panas. Kota Batam memang terasa sangat panas, melebihi panasnya semarang Bawah. Memang secara geografis pulau ini dikelilingi oleh lautan, jadi wajar kalau memang terasa panas sekali.
Dengan luas yang tidak seberapa, berkeliling pulau Batam bisa dilakukan dalam hitungan jam, dimana barisan pegunungan dan lautan, danau, hutan sambung menyambung menjadi satu dalam pesona yang silih berganti. Di Batam yang sedang berkembang menjadikan alam menjadi rusak. Dimana banyak kutemui kerusakan-kerusakan alam akibat alih fungsi hutan menjadi jalan, perumahan dan industri, hal ini menjadi salah satu potret kedamaian yang harus hilang dan tergantikan. Miris memang, dimana banyak sekali gunung yang dipangkas dan tanahnya katanya buat menguruk negara tetangga, wallahuallam. Semoga alih fungsi Hutan yang ada tidak terjadi secara semena-mena. Kalau tidak dilakukan dengan seimbang bukan sebuah kota yang nyaman yang akan terbentuk, akan tetapi jakarta-jakarta yang lain yang akan tercipta. Dimana kesalahan dalam tata kota menyebabkan kesemrawutan disemua aspek kehidupan.
Dari informasi yang aku baca di Internet menyatakan bahwa Batam memang akan dikembangkan menjadi sebuah kota Industri karena tanahnya tidak begitu subur. Pembangunan oleh Badan Otorita Batam digencarkan untuk salah satunya menyaingi singapura sebagai pusat bisnis dan hiburan. Salah satu kebanggaan dari kota Batam adalah jembatan Barelang yang merupakan singkatan dari Batam, Rempang dan Galang. Jembatan ini menghubungkan Batam dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Jembatan ini juga disebut Jembatan Habibie karena dibangun pada era kepemimpinan Habibie sekitar Tahun 1999. Jembatan yang menjadi ikon kota Batam ini memang lumayan unik, dengan arsitektur yang beda dengan jembatan-jembatan lain di Indonesia. Pemandangan di sekitar Jembatan Barelang sangat indah, dengan laut dan pemandangan pulau yang terhampar. Lagi-lagi adanya kerusakan hutan dan ulah pengembang yang merusak pesona ini. Dimana-mana kapitalis berusaha membangun sarana-prasarana kelas tinggi yang hanya dapat dimanfaatkan oleh sebagian orang saja. Pembangunan villa-villa yang menghadap ke laut bukan menambah keindahan akan tetapi bagi aku hal itu merusak sebuah lukisan alam yang terhampar di bumi Batam ini. Aku coba bayangkan bagaimana Batam pada tahun 60-70 an pasti Indah sekali. Dimana masih banyak hutan perawan dan masih banyak satwa-satwa yang berkeliaran di hutan yang menjadi habitat aslinya.
Beraktivitas sambil membaca tentang budaya, kebiasaaan dan karakteristik kota ibarat sambil menyelam minum air. Dengan travelling sambil bekerja, aku bisa sekaligus menjalankan tugas sambil mencari pengalaman hidup. Pasti akan ada yang beda yang bisa aku ambil. Di Batam banyak sekali suku-suku yang mendiaminya. orang bilang Batam menjadi miniature Indonesia selain Jakarta tentunya. Di Batam bermacam-macam suku hidup berdampingan seperti Melayu yang merupakan suku asli di Batam, Jawa, Bugis, Batak, Palembang, padang, Cina dan suku-suku yang lainnya. Bermacam akulturasi budaya terjadi di sini. Tidak ada spesifikasi budaya yang mendominasi. Semuanya rukun berdampingan ada di kota ini. Berbagai macam tempat ibadah agama juga bertebaran di Kota Batam, macam-macam kuliner dan makanan-makanan dari seluruh Indonesia. Yang unik dari kota ini ketika ketika hendak memesan minum es teh, mereka menyebutnya The obeng dan kalau teh hangat mereka menyebutnya teh O. Nggak tahu asal muasalnya kok bisa obeng dan O seperti itu. Tiap-tiap daerah memang punya kata sendiri dalam mendefiniskan minuman Teh. Di Jakarta, kalau di Warteg ketika ditanya mau minum apa, kemudian kita jawab teh maka yang disuguhkan adalah teh tawar, beda sama di jawa kalau minum teh berarti Teh Manis, kalau mau menyebut teh tawar tanpa gula maka harus pakai teh tawar. Teh paling enak yang pernah kurasakan adalah teh dari Surabaya di warung samping kostku dulu di Gubeng Surabaya. Ketika kutanya pada penjualnya, apa merk teh tersebut, katanya sih tidak dijual di Pasaran. Belinya di daerah lawang Malang. Sayang sekali.
Di Batam, aku coba berbagai macam makanan. Bersama teman-teman kerja area Batam kami coba berbagai macam masakan yang berbeda-beda. Makan sop tulang kaki dari Cirebon, kemudian makan nasi goreng seafood, makan di warung Sunda, makan malam di Harbor bay dengan seafood kepiting. udang, ikan, dan tentu saja makanan favoritku gorengan (tetep nggak ketinggalan). Dari semua makanan yang ada di Batam rata-rata memiliki ciri khas kedaerahan masing-masing. Bagi aku warung Sunda yang paling enak. Enak dalam rasa dan harga. Aku orang jawa yang suka makanan sunda. Bagi lidah orang jawa makanan sunda memang tidak jauh dari tipikal makanan jawa. Satu hal yang paling aku senangi dari makanan sunda adalah banyak sayurnya. Sayur is one of my favorite dishes. Kalau makan tanpa sayur pasti rasanya ada yang kurang. Dengan makan sayur, gorengan dan telur dadar adalah paket hidangan yang komplit, murah dan meriah.
Selain itu, seafood di Harbour Bay juga sangat enak. Di Jakarta kalau mau makan seafood biasanya aku dan temen-temen makan di Restoran jepang yang all you can eat. Masalahnya di restoran tersebut kita bisa menikmati udang, cumi sepuas-puasnya. Yang aku heran sampai sekarangpun bahwa aku belum bisa menemukan kelezatan dari kepiting. Banyak orang yang tergila-gila dengan kepiting. dan aku sendiri sampai saat ini masih belum bisa merasakan dan menemukan dimana titik kenikmatan dari makan kepiting. Karena ketika makan kepiting yang kurasakan keras dan banyak tulangnya. Apa karena aku anak gunung yang jarang banget makan kepiting kali ya. Dari Seafood yang disajikan di Harbour Bay Cuma udang teur asin yang terasa sangat nikmat di lidahku. Rasanya memang pas, tidak begitu asin dan gurih. Inilah udang telur asin yang paling enak kurasakan selama ini. Makan malam bersama Pak Anedi, Pak Adi, Mbak Alin, Mas Tohiron di pinggir pantai sambil menyaksikan kapal-kapal yang lalu lalang dari Singapure. Pengalaman yang menarik.
Pengalaman menarik lainnya adalah ketika aku menyeberang ke Pulau Bintan untuk presentasi di RSUD Tanjung Uban. Pengalaman yang unik, karena aku bisa naik ferry yang kecil dan menyeberang selat dari pelabuhan Punggur sampai pelabuhan Uban. Akhirnya aku bisa menyeberang ke pulau Bintan dimana Tanjung Pinang sebaga ibu kota Kepri ada di Pulau ini. Di Tanjung Uban yang kurasakan memang sudah modern, jalan-jalan beraspal hotmix dan lagi-lagi panas. Satu hal yang membuat aku tidak nyaman. Kota di pinggir pantai membuat suasana memang terasa Panas, apalagi bayak hutan yang mulai gundul. Semoga pembangunan akan terus berwawasan lingkungan dan pembangunan bukan berarti harus merusak alam bukan?
Bicara tentang Batam, pasti akan bicara tentang BM alias Black Market. Ketika kuutarakan niat untuk pergi ke Batam, hampir semua temanku minta titip dibelikan elektronik yang BM. Karena katanya sih murah karena tidak kena beaya masuk, dan karena aku males diribetkan untuk hal-hal yang aku sendiri nggak paham, maka aku tolak dengan mengatakan sorry adi ke sana bukan jalan-jalan tapi mau kerja he..he..he…sok imut deh…
Selain BM oleh-oleh khas Batam adalah makanan-makanan yang diimport dari Malaysia. Di Supermarket banyak pilihan coklat Import yang murah-murah. Saking murahnya tak bela-belain beli sampai satu kardus makanan. Niatnya sih dibagi-bagiin di Jakarta nanti. Prinsip aku dalam membawa oleh-oleh adalah murah, meriah, dan sama rata sama bahagianya (yang memberi dan yang diberi maksudnya).
4 Hari Di Batam cukup memberiku pengalaman hidup yang tak terlupakan, semoga harapannya aku bisa kembali lagi ke kota Batam dan merajut kembali kenangan-kenangan travelling yang lain. Tidak ada salahnya mumpung masih single, karena dengan traveling kita akan belajar banyak hal tentang kehidupan yang tidak akan kita dapat hanya dengan kita duduk di belakang meja. Untuk rekan-rekan seprofesiku yang ada di Tanjung Uban, RSUD Batam, Budi kemuliaan semoga senantiasa sukses dan menjadi terbaik dalam profesi kalian. Terima kasih atas sambutannya dan semoga bisa ada waktu untuk bertemu lagi. mbak Alin dan Pak Anedi, see you in another occasion. Thanks for everything.




Jakarta, 26 September 2010
(On my Mam Bithday)

Selasa, 14 September 2010

Sinergi dengan alam


Hari ke-3 lebaran, dimana merupakan hari terakhir liburan cuti bersama di kantorku. Sudah sunnatullah bahwa liburan berapa lamapun akan terasa begitu singkat. Hal itu juga yang aku rasakan kini. Perasaan enggan menggelayuti dalam benakku, seandainya liburku ditambah satu-dua hari lagi, aku berandai-andai dalam hati. Pagi itu sebenarnya aku hendak menyelesaikan amanahku dari kantor untuk menyusun konsep training. But, rasanya males sekali harus membuka laptop dan duduk berjam-jam di depan laptop. Setelah lari pagi sebenarnya aku berencana untuk menyelesaikan bacaanku yang tidak kunjung usai karena terkena penyakit malas yang susah hilang dari kebiasaanku. Ketika membaca biasanya aku tiba-tiba tertidur, apalagi membacanya sambil di atas bantal. Untuk mensiasati hal tersebut biasanya aku pergi ke alam terbuka, di tempat yang sepi dan aku mampu membaca hingga berjam-jam lamanya, atau kalau lagi males keluar biasanya aku tidur dulu 2-3 jam dan kemudian mulai membaca. Hal ini adalah strategi-strategi yang aku tempuh dalam memaksakan diriku agar selalu mengupgrade ilmu dan isi otak yang lama kelamaan akan menjadi tumpul apabila tidak di upgrade ulang.
Pagi itu, setelah mandi dan menguras bak mandi aku bermaksud kabur dari kost karena takut ketiduran lagi di hari terakhir liburan. Lebih baik aku leyeh—leyeh di kebun binatang ragunan yang hanya berjarak kurang lebih 200 m dari kostku. Cuma modal 5000 perak, aku bisa membaca sambil menikmati nyanyian alam dari burung-burung dan serta mendengar jeritan monyet yang bersahut-sahutan. Sudah menjadi tradisi bahwa pada moment-moment lebaran suasana Ragunan ibarat pasar tumpah dadakan, semrawut dan ramainya minta ampun. Teman-temanku sudah mengingatkan aku akan hal tersebut. Tapi buatku dengan keramaian itu aku bisa dapat banyak ilham untuk pembelajaran hidup, betul nggak. Ambil positifnya sajalah.
Sebelum berangkat aku siapkan buku-buku yang hendak aku baca. Kumpulan buku di lemariku yang aku beli dari obral buku murah masih tertumpuk rapi di sudut lemariku. Kebiasaanku yang susah hilang apabila ada obral buku murah aku langsung kayak kesetanan untuk membeli, walaupun belum tentu ada waktu untuk membacanya. Yang penting beli dulu masalah waktu untuk membaca kan ada waktu luang, yang sayang apabila hanya untuk melamun dan nonton gossip di TV doang. Akhirnya kupilih buku karangan Vallerina Daniel salah satu mantan putri Indonesia yang aktif di kegiatan lingkungan hidup. “Easy green living”, kayaknya cukup menarik juga untuk dibaca, begitu pikirku. Selain itu aku juga membawa buku Andrias Harefa dengan Mindset Therapynya serta beberapa majalah kesehatan pemberian bosku di kantor. Kira-kira ada lima buku yang aku bawa untuk dibaca di Ragunan.
Masih pagi sekitar jam 09.00 aku memasuki pintu Ragunan, sudah cukup ramai dan nampak semrawut sekali di sekitar Terminal Ragunan maupun di Terminal Busway. Ditambah suara petugas yang mengatur lalu lintas dengan menggunakan speaker semakin membuat bising suasana, akan tetapi dengan speaker tersebut lalu lintas dan kendaraan menjadi lebih teratur. Karena instruksi yang diberikan cukup jelas. “Bagi kendaraan truk yang mengangkut rombongan dari ujung berung harap belok kiri”!! “Bapak baju motif monyet Ragunan jangan fashion show di tengah jalan Pak! Ayo cepat menyingkir ntar tertabrak Busway”! Begitulah kira-kira instruksi dari petugas, persis kayak tukang jamu di alun-alun pasar klewer. Memasuki gerbang Ragunan cukup dengan membayar lima ribu rupiah saja, berharap ada kembalian 500 perak, karena biasanya Cuma 4500. Ternyata yang lima ratus dipakai untuk sumbangan sukarela untuk PMI DKI, yo wislah amal 500 perak. Begitu emasuki pintu utama sudah ada mobil Metro TV yang siap-siap mengadakan liputan. Pada hari liburan seperti ini, banyak stasiuun televisi yang berkeliaran untuk mengadakan liputan. Berharap mendapatkan liputan tentang liburan yang murah meriah mungkin. Dan isinya memang kebanyakan tidak lepas dari liburan yang murah meriah di Ragunan, serta isi berita yang membahas tentang warga Jakarta yang membutuhkan tempat liburan yang murah meriah dan ruang terbuka hijau. Dari stasiun TV satu dan Stasiun TV yang lain isinya tidak lepas dari rekreasi murah di Jakarta yang kian terbatas. Ya wis lah.
Masyarakat dari penjuru jabodetabek datang berduyun-duyun bak air bah. Dari tua, muda, anak kecil, bayi, balita, nenek-nenek, gadis, perjaka, emak-emak, remaja yang beranjak gede datang tumpah ruah dari berbagai sudut kota dan kampung. Ada yang membawa mobil pribadi, motor, naik angkot, carter angkot dengan membawa satu rombongan dangdut, ada yang naik busway yang pada hari itu isinya banyak anak-anak kecil mirip bis darmawisata anak TK. Selain itu ada yang bela-belain membawa truk, menumpang pick up dengan tutup terpal (amit-amit datang dari kampung mana tuh), ada yang datang berdua-duaan yang didominasi ABG-ABG yang lagi kasmaran, ada yang sendirian seperti aku (kayaknya dari ribuan orang cuma aku yang datang sendirian). Hampir semua orang datang dengan keluarganya masing-masing, kerabat, handai taulan, pacar, sohib dan hampir tidak ada yang soliter. Yang pasti hampir seratus persen pengunjung adalah pribumi asli. Dari penampilannya yang sederhana dan kadang ada yang sedikit ngaco dalam pemilihan baju. Nampak sekali walaupun di Jakarta masih banyak jemuran yang berjalan-jalan di tempat keramaian. Hal ini selalu menjadi pengamatanku, karena aku gemar mengamati fashion yang nggak nyambung jek. Maklum anak pedagang konveksi.
Suasana semakin siang semakin ramai, Ragunan yang pada bulan Ramadhan kemarin kayak kuburan sekarang malah lebih kayak karnaval 17-an. Iring-iringan mobil diperkenankan masuk ke areal Ragunan. Karena apabila parkir di luar maka nggak ada lahan. Sehingga nampak semrawut antara pejalan kaki dan rombongan-rombongan dangdut yang beriringan. Hampir semua pengunjung yang datang membawa bekal dari rumah, memang sudah niat untuk makan di alam terbuka kali. Para penjaja minuman, penjual tiker harga 5000-an, tukang foto, asongan, delman, penjual kerak telor, pecel, mainan anak dan pedagang lainnya tumpah ruah menambah keramaian Ragunan siang itu. Dengan susah payah aku keliling-keliling mencari lokasi yang sesuai untuk ngadem sambil membaca buku. Tempat yang biasanya aku pakai sudah dikapling sama orang. Terpaksa muter cari tempat yang lain. Akhirnya dapat juga tempat di pinggir danau dengan view yang lumayan shady. Sayangnya banyak sampah-sampah berserakan di sekitar lokasi yang kupilih, dasar Indonesian. Niat mengotori alam nggak usah jauh-jauh ke Ragunan, pikirku agak mangkel. Maklum, tak jauh dari tempat aku duduk berserakan bekas mizone, aqua, plastik-plastik yang nggak jelas, dan sampah-sampah bekas makanan menambah kesan jorok banget. Sayangnya memang nggak ada tempat sampah di sekitar situ, siapa yang pantas dipersalahkan??
Dengan sedikit dongkol aku mulai membaca tentang “easy green living”nya valerina Daniel. Cukup ringan dan menginspirasi. Apalagi membacanya pas di alam, jadi otakku menyerap lebih cepat informasinya. Sambil sesekali mengamati tingkah laku orang-orang yang nampak kegirangan dan heboh turun dari angkot carteran yang parkir tidak jauh dari tempatku berada. Dari wajah-wajahnya kayaknya mereka berasal dari pelosok Tangerang nunjauh di sana. Nampak anak kecil yang bersorak-sorak kegirangan karena hendak melihat gajah. Ada iklan lewat pikirku. Hampir 2 jam aku membaca dengan tenang dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar, Cuma sekilas kalau ada yang mendekat aku mencuri pandang. Siapa tahu ada yang bening lewat.
Mendekati pukul 12 siang, serombongan orkes dangdut dengan bahasa yang aku nggak ngerti bahasanya apa, datang dan menggelar tikar di tempat aku membaca. Dasar nih orang-orang, nggak tahu kalau aku lagi pengin membaca dengan tenang kali ya. Jangan harap aku pergi, begitu pikirku. Toh, aku yang datang duluan. Dengan tertawa berha ha hi hi mereka menggelar tikar untuk potluck (makan maksudnya) dengan cueknya aku tetap membaca dan berlagak tuli. Hampir satu jamanan mereka menghabiskan makanannya dan kemudian pergi bersiap-siap balik ke alamnya. But sialnya, bukan ninggalin makanan but ninggalin sampah di bekas mereka makan. Amit-amit nih orang kampung. Nggak tahu etika sama sekali, batinku dalam hati. Dalam agama sudah diajarkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Aku yakin mereka tahu but aplikasinya nol besar, dengan pedenya meninggalkan sampah-sampah plastik dan makanan, serasa dunia milik nenek moyang mereka yang lain cuma kost dan kontrak. So mereka bebas melakukan apa saja. Pheewww. Geram bercampur mangkel melihat mentalitas bangsa kita yang ibarat mental warung tegal. Habis makan langsung ditinggal.
Setengah jam kemudian, sudah agak reda dongkolnya. Kemudian datang sepasang anak muda yang sedang kasmaran. Dari raut mukanya kelihatan banget lagi memadu kasih. Romeo and Juliet datang nih pikirku saat itu. Dengan gaya yang sok mesra, bikin aku eneg. Nih, mau PDA di depanku. Amit-amit deh. Apa nggak ada tempat lain ya yang sepian dikit, kuburan kek or kamar mayat kek, biar puas! Masak PDA di tempat ramai kayak gini. Dan parahnya, pluk! Nyampah lagi, ninggalin sampah sambil berlalu menjauh. Pingin kusambit rasanya pakai botol minumku. Dasar, nggak tahu apa kalau aku lagi baca easy green living. Pasrah, aku juga males ngambilin tuh sampah, ntar aku dikira pemulung lagi. Setelah itu datang keluarga dengan 2 anak kecil-keci, seorang bapak yang sedang mendorong kereta bayi yang isinya bukan bayi tapi makanan dan istrinya yang sedang hamil! Hebat Bro, anak-anaknya masih mungil-mungil istrinya sudah hamil tua. Hebat nih pejantan, pasti orang kaya dan hartanya melimpah ruah 7 turunan. Yo wislah, sutra bukan urusanku. Syukurnya, mereka nggak nyampah di depanku, karena aku keburu sholat karena udah jam 1. Cari musholla dan tobat sudah ngata-ngatain orang walau dalam hati saja (kayak lagunya warna).
Sehabis sholat lanjut baca, but cari lokasi yang lain deh. Sambil cari lokasi yang lain, mataku gerilya siapa tahu ada ilham untuk dikomentari atau sekedar jadi bahan tulisan di blogku. Akhirnya kutemukan tempat di pinggir danau, lumayan buat nyantai. Nggak terlalu bising dan nggak banyak orang lalu lalang di depanku. Gimana mau lalu lalang lha wong depanku danau, emang putri duyung or neptunus si dewa waduk. Waduk di depanku untuk pemancingan sehingga tidak ada kapal fantasi yag lewat atau becak air yang wira-wiri di depan batang hidungku, Cuma sesekali bapak-bapak sliwar sliwer di depanku. Nggak jelas mau ngapain, mau mancing kok nggak bawa pancingan, mau jalan-jalan doang kok ya di kolam pemancingan. Emboh lah. Lanjut baca pikirku. Baru setengah jam membaca kepalaku sudah berputar-putar, datang nih penyakit lama. Kelelahan akibat membaca. Kalau dipaksakan bakal nggak bisa konsen babar blas, yo wislah ngalahin pulang saja. Toh, hari dah mau hujan. Pulang, makan dan tidur, begitu pikirku kala itu.
Sambil berjalan pulang kupasang music dari handphoneku. Biar nyantai dikit pikirku. Sambil kuedarkan pandang, siapa tahu ada ide yang muncul untuk menulis. Sejauh mata memandang ribuan orang hilir mudik dengan barbagai macam aktivitas, dan kebanyakan adalah niat makan di alam bebas. Dan lagi-lagi sampah ada di mana-mana. Ampun deh, gimana ya biar nggak nyampah, perlu reward and punishment kali ya. Banyak pasangan muda, remaja-remaja yang beranjak gede yang melakukan PDA, ada yang belai-belaian (iiihhh), ada yang tiduran di pangkuan, ada yang rangkulan, ada yang foto-foto dengan pose norak jaman baheula yang mirip-mirip dikitlah sama posenya siamang, ada yang nangkring di atas pohon di area primata (persis kayak primatanya), ada yang mojok di taman dan berbagai macam pose aneh lainnya. Lagi-lagi PDA, sedangkan disitu banyak anak-anak kecil berkeliaran. Pheewwww.
Semakin dekat pintu keluar, maka lautan manusia semakin tampak. Kesempatan untukku untuk jeprat-jepret dengan kamera starku. Cari moment-moment yang bisa aku jadikan tulisan. Aku agak jengah dengan namanya sampah yang bertebaran dimana-mana. Piknik sih Piknik, apa harus bawa sampah juga gitu lho. Sudah membawa rombongan sirkus, masih nyampah lagi. Dan kebanyakan orang-orang memang cuek untuk membuang sampah di jalan. Nggak peduli mau cantik, jelek, pria wanita, anak-anak, kelihatan terpelajar atau nggak sekolah, miskin kaya, semuanya pada cuek buang sampah sembarangan. Pikirnya, toh ntar ada yang bersihin. Yang parahnya, banyak rombongan dangdut yang nyantai makan-makan dengan dikelilingi sampah. Nah lo, bukannya risih malah asyik makan dan tiduran. Menghayati peran atau karna sudah bebal. Emboh lah. Kamera HPku nggak lepas-lepas dari jepret sana dan sini. Baru sekali ini aku lihat macet di dalam kebun binatang. Mau parkir macet, mau keluar juga kesulitan. Enaknya kayak aku nih, punya kost dekat ragunan. Nggak usah bawa mobil cukup jalan kaki. Kepikiran juga nih untuk part time jualan the botol kali ya. Bisa untuk beli pulsa unrungnya. He…he….he…
Menjelang Ashar aku akhirnya bisa keluar dari gerbang dengan selamat, cuma kuku kakiku ada yang terluka gara-gara keinjek ibu-ibu yang jalan nggak lihat-lihat, dimaafin deh. Lagi lebaran. Banyak sekali pengamatan yang aku rekan di memoriku hari ini. Memang masih banyak yang harus diperbaiki dari bangsa ini, masalah kesadaran akan kebersihan memang harus selalu dibangun sejak dini. Minimal dari keluarga, atau sekarang dari diri sendiri dulu. Kita memang berhak menegur orang lain, alangkah lebih baiknya kalau kita menegur dengan keteladanan, sehingga semua bisa jadi lebih baik. Alam bukan hanya untuk dinikmati akan tetapi kita wajib menjaga kelestariannya, semoga alam tetap mau bersahabat dengan kita dan kita akan menjadi salah satu bagian dari alam yang tak terpisahkan. Hiduplah harmoni dan alam akan mendukungmu.

Sub episode dari Ragunan

Aku menyebutnya sebagai sub episode dari babak Ragunan karena merupakan episode yang berulang dari pengalaman hidup aku. Hanya pemainnya yang berbeda. Sub episode pertama pada saat aku baru seminggu di Ragunan dan Sub episode kali ini pada hari ke-2 lebaran, dimana Ragunan menjadi tempat wisata favorit keluarga karena murah dan terjangkau.
“Ragunan bakal ramai banget, lho!” Kata hampir semua orang yang tahu kalau kami mau keragunan. Karena acara potluck diragunan sudah direncanakan jauh-jauh hari, so the show must go on. Rame malah asyikkan, daripada sepi kayak kuburan. Mendingan rame sehingga kita bisa lihat tingkah laku manusia yang beraneka ragam dan diciptakanTuhan dalam kondisi yang sebaik-baiknya. Berbekal patungan, aku, Bejo, likah berbelanja untuk persiapan potluck. Menu favorite kami adalah telur dadar, seafood dan bakso. Dan utuk proses pengolahan adalah bagian aku yang ketiban sampur, soalnya aku yang tidak sedang on duty. Yo wis lah nggak papa, belum tahu kalau aku adalah murid dari Rudi Hadisuwarno , eh keliru maksudnya Rudi Khairuddin si jago masuk yang beken itu. Dengan modal bumbu Royco akhirnya jadilah sebuah mahakarya masakan mie goreng bertabur udang bakso dan telur dadar. Thit is it…..indomie telur bertabur udang bakso ala chef Adi Quinn! Biar ancur yang penting pede.
Dari BSD by taksi, modal dikit soale kalau naik angkot bisa 4 kali ganti (males). Selisih 50 ribuan yang penting cepat dan nyaman, tul nggak. Lha wong patungan juga. Sing penting Happy. Sampai Ragunan sudah menjelang siang, but memang benar lho, rame abis, sampai ada yang bawa truk segala. Sebagian besar memang didominasi oleh pasangan muda dengan anak-anak kecil mereka. Kebiasaaan kita memang bercanda dan mengoceh sepanjang jalan. Maklum, mumpung belum terikat ama KUA, puas-puasin saja ngegombalnya, jepret sana, jepret sini, bergaya di tengah kebon or nampang di kandang Si amang (ini bukan nama orang lho). Pheewww, panas dan pegel, soalnya mengelilingi raguanan lumayan gempor. Niatnya sih biar cepet laper juga, supaya potlucknya sukses abizz.
Jam 12 adalah waktu yang ditunggu-tunggu, time for lunch. Lets begin our party under tree. Karena kita terkenal hemat bijaksana so cuma beralaskan Koran (hemat opo miskin yo, beda tipis). Mari kita mulai potlucknya! Usut punya usut ternyata sebagian hidangan kita adalah karbo lauk karbo, nasi lauk mie yang bejibun dengan kerupuk ditambah sambil kreasi cheft Bejo belibis plus saus tiram…hmmm yummy, si Okti dengan sambel yang super pedesnya yang bikin kayak racun di lidah. Phewww….Untung masih ada bakso, telur, udang sama ikan asin. So karbo lauk karbonya sedikit berkurang.
Kloter pertama makan sudah usai, but makanan masih banyak cing. Niat lanjut ke kloter kedua, ntar siang menjelang sore. Jam 13.00 time for pray, but noraknya, Bejo, arif and me nggak bawa sarung. Tuh ketahuan nggak inget sama Tuhan pas senang-senang. Dengan pe denya pakai celana ¾ semua. Ancurnya lagi si Arif dan Bejo celananya kembar. Dasar, itulah risiko beli barang murahan, banyak duplikatnya. Beda sama celanaku yang eksklusif asli Te Esan Ramayana. Yess!
Pas lagi hanging out, mendadak hujan gerimis dan kemudian panas, so alternative yang terbaik adalah lari menyelamatkan diri. Kata Si Okti dia adalah produk anti air so musti diselamatkan dari kerusakan, Si Likhah yang anti mabok (antimo kali), ngacir juga apalagi aku yang anti karat he..he..he… So, perjalanan kita berakhir di kost-kosantku. Ngadem sambil leyeh-leyeh (maklum si Likhah sama Bejo habis ronda di Eka, sudah ronda pake angkat-angkat lagi, lengkap dech sengsaranya). Sambil leyeh-leyeh sama sortir foto yang mau di upload, biasa sich a little bit show off. Kapan lagi kalau nggak sekarang keburu tua!
Episode sub ragunan mesti diakhiri seiring cahya tembaga semburat di barat, setelah hujan yang mengguyur akhirnya waktu jua yang memisahkan kita, ceilee sok melankolis. Ada banyak sub episode yang telah kita rencanakan, ada sub Epidose TMII, Monas, Museum, Bogor, Mekarsari, Bandung, dan kepulauan 1000. Ntar kapan akan terjadi yang penting mimpi dulu bisa jalan-jalan lagi, murah, meriah dan berkesan. So, lets we traveling……..

Ragunan, 11 September 2010