Kamis, 28 Oktober 2010

Manajemen Mendengar


Mendengar, begitu mudah diucapkan akan tetapi sungguh sulit untuk dilakukan. Mengapa mendengar sangat sulit untuk dilakukan, walaupun secara teori kita cuma diam dan pasang telinga baik-baik, tidak perlu buang-buang kalori untuk mendengar sebuah masukan.
Sebenarnya Tuhan sudah memberikan tanda-tanda agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara, kita punya 2 telinga dan satu mulut. Secara tidak langsung seharusnya manajemen mendengar kita harus lebih canggih dari manajemen retorika/manajemen berbicara kita.

Rasullulah mengatakan barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka ucapkanlah dengan kata-kata yang baik ataupun lebih baik diam. Alasannya masuk akal, sebab kata-kata kita kelak akan dipertanggungjawabkan (QS. 50:18). Ketika tidak ada gunanya kita berbicara, alangkah baiknya apabila kita diam. Karena dengan diam itu ada kekuatan, salah satunya kekuatan sabar kita yang diuji.
Banyak sekali percekcokan, pertentangan, perkelahian karena kita tidak bisa saling mendengar, semuanya ingin didengarkan dan dianggap memiliki kata-kata yang mumpuni dan solutif. Setajam-tajam pedang lebih tajam lidah orang, sering terjadi sengketa karena salah bicara, nah lo!

Menjadi pendengar yang baik adalah sangat sulit sekali, sudah sulit ditambah sangat plus sekali, fiuhhh. Manajemen mendengar sudah coba aku asah sejak aku pelajar, akan tetapi masih sulit juga, kadang pertahananku bobol dan keluarlah seribu satu alasan atau pembenaran agar tidak terlalu lama jadi pendengar. Apalagi kalau ada kritikan yang diarahkan kepada kita, mau beralasan pasti dikira membela diri, mau tidak membela diri kuping kita jadi panas. Seandainya kritik itu benar mungkin kita masih bisa berbesar hari, kalau kritik yang diarahkan kepada kita cenderung fitnah, akan sangat menyakitkan. Pasrah sajalah, memang kita perlu belajar senam hati, toh Allah tidak tidur, so take it easy.

Keterampilan menjadi pendengar yang baik akan selalu mendewasakan orang, aku sangat yakin dan percaya bahwa orang yang mampu mendengar dengan hati akan menjadi individu yang tidak takut akan perubahan dan siap untuk bersaing secara sehat. Bagaimanapun, ketika kita mampu menganalisa lebih dalam dari hasil mendengar kita, maka akan sangat bermanfaat bagi kita kelak di kemudian hari.

Aku berharap, bahwa aku bisa menjadi orang yang mampu mendengar dengan hati, berbicara dengan asertif, dan aku mohon perlindungan kepada Allah akan segala fitnah. Semoga aku dijauhkan dari salah prasangka, iri, hati, dengki, rasa sombong dan zalim kepada orang lain. Ya Allah peliharalah aku dari hal-hal yang bisa mencelakaiku. Semoga selamat hidupku di dunia dan akhirat, Amien.

Tidak ada komentar: