Rabu, 29 September 2010

BATAM DALAM KENANGAN





Ketika kudaratkan kaki di Hang Nadim
Kulihat Ribuan Wajah Penuh Cinta dan Harapan
Kerinduan akan sebuah tempat persinggahan
Di Tengah hiruk pikuk gemuruh panas pulau Batam

Itulah sepenggal lirik lagu nasyid milik Suara Persaudaraan dengan judul Bergegaslah. Sebuah lagu yang menginspirasi saya agar suatu saat bisa menjejakkan kaki di pulau Batam, sebuah pulau yang paling mendekati Singapura yang sedang berkembang pesat menjadi sebuah pulau Industri andalan Indonesia. Dari lirik lagu yang menceritakaan tentang banyaknya akhwat dan gadis-gadis di Batam, dimana sebagian besar dari mereka rindu akan pelabuhan hati atau pasangan hidupnya. Mungkin memang banyak perantauan yang datang ke kota Batam untuk mengadu nasib. Memang persepsi masyarakat yang mengatakan bahwa kalau sudah kerja di Batam ibarat kerja di luar negeri. Untuk standart gajipun lebih besar dari kota-kota yang lain, untuk sekelas pembantu rumah tangga bisa mencapai 1-1,2 juta, makan minum ditanggung majikan dan tidur disediakan. Kalau dibandingkan dengan gaji perawat di Jakarta yang fresh graduate hampir sama bahkan lebih besar pembantu rumah tangga di Batam. Di Jakarta saja, gaji perawat di Rumah sakit ada yang Cuma 700 ribu tambah dines malam. Jadi nggak nyampai satu jutaan dengan latar pendidikan D3. Lebih lebih lagi Perawat adalah profesi dengan risiko kerja yang sangat tinggi yang selalu kontak dengan cairan dan darah pasien, hal ini memiliki risiko penularan yang tinggi. Sungguh sebuah profesi yang terlupakan. Bahkan oleh perawat itu sendiri.
Anyway, berbicara masalah perawat akan jauh sekali hubungannya dengan apa yang akan aku ceritakan tentang pengalaman perjalananku kali ini. Batam dalam kenangan, sebuah judul yang aku ambil dari judul nasyid suara persaudaraan yang menceritakan tentang keindahan pulau batam dengan hijau alamnya dan pesona pemandangannya. Pertama kudaratkan kaki di Hang Nadim aku belum begitu merasakan pesona pulau yang mulai dikembangkan oleh Badan Otorita Batam sejak Tahun 1970 an ini. Terang saja, aku nyampai di kota Batam juga pada malam hari, sehingga yang nampak hanya gelap di sekitarku. Jalan-jalan yang halus menjadi salah satu indikasi bahwa pembangunan di kota Batam memang sedang digencar-gencarkan.
Aku ke Batam dalam rangka tugas dari Kantor. Terang saja aku senang sekali, karena Batam adalah pulau ke-2 di Indonesia yang ingin sekali aku kunjungi setelah Pulau Bali. Kalau ada rezeki pulau yang ke-3 yang ingin aku kunjungi adalah pulau Papua, So God Will. Dalam 5 hari aku berharap bisa melihat sekilas pesona Batam yang selama ini aku bayangkan identik dengan kemajuan yang berkontinuitas. Setelah check in di Hotel dan beristirahat, paginya aku sempatkan berjalan kaki mengelilingi kompleks sekitar Hotel. Sepintas memang tidak ada yang beda dengan kota-kota kecil lain di Pulau Jawa. Disini aku jarang sekali melihat angkot, persis kayak di Bali yang jarang Angkot. Selain itu jumlah pengendara sepeda motor juga tidak terlalu banyak. Tidak seperti di Jakarta ataupun di Bali.
Aktivitas kantor memaksaku untuk berjalan berkeliling-keliling kota Batam, dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain. Semakin siang kurasakan memang semakin panas. Persis kayak lagunya suara persaudaraan yang mensiratkan bahwa Batam berhawa panas. Kota Batam memang terasa sangat panas, melebihi panasnya semarang Bawah. Memang secara geografis pulau ini dikelilingi oleh lautan, jadi wajar kalau memang terasa panas sekali.
Dengan luas yang tidak seberapa, berkeliling pulau Batam bisa dilakukan dalam hitungan jam, dimana barisan pegunungan dan lautan, danau, hutan sambung menyambung menjadi satu dalam pesona yang silih berganti. Di Batam yang sedang berkembang menjadikan alam menjadi rusak. Dimana banyak kutemui kerusakan-kerusakan alam akibat alih fungsi hutan menjadi jalan, perumahan dan industri, hal ini menjadi salah satu potret kedamaian yang harus hilang dan tergantikan. Miris memang, dimana banyak sekali gunung yang dipangkas dan tanahnya katanya buat menguruk negara tetangga, wallahuallam. Semoga alih fungsi Hutan yang ada tidak terjadi secara semena-mena. Kalau tidak dilakukan dengan seimbang bukan sebuah kota yang nyaman yang akan terbentuk, akan tetapi jakarta-jakarta yang lain yang akan tercipta. Dimana kesalahan dalam tata kota menyebabkan kesemrawutan disemua aspek kehidupan.
Dari informasi yang aku baca di Internet menyatakan bahwa Batam memang akan dikembangkan menjadi sebuah kota Industri karena tanahnya tidak begitu subur. Pembangunan oleh Badan Otorita Batam digencarkan untuk salah satunya menyaingi singapura sebagai pusat bisnis dan hiburan. Salah satu kebanggaan dari kota Batam adalah jembatan Barelang yang merupakan singkatan dari Batam, Rempang dan Galang. Jembatan ini menghubungkan Batam dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Jembatan ini juga disebut Jembatan Habibie karena dibangun pada era kepemimpinan Habibie sekitar Tahun 1999. Jembatan yang menjadi ikon kota Batam ini memang lumayan unik, dengan arsitektur yang beda dengan jembatan-jembatan lain di Indonesia. Pemandangan di sekitar Jembatan Barelang sangat indah, dengan laut dan pemandangan pulau yang terhampar. Lagi-lagi adanya kerusakan hutan dan ulah pengembang yang merusak pesona ini. Dimana-mana kapitalis berusaha membangun sarana-prasarana kelas tinggi yang hanya dapat dimanfaatkan oleh sebagian orang saja. Pembangunan villa-villa yang menghadap ke laut bukan menambah keindahan akan tetapi bagi aku hal itu merusak sebuah lukisan alam yang terhampar di bumi Batam ini. Aku coba bayangkan bagaimana Batam pada tahun 60-70 an pasti Indah sekali. Dimana masih banyak hutan perawan dan masih banyak satwa-satwa yang berkeliaran di hutan yang menjadi habitat aslinya.
Beraktivitas sambil membaca tentang budaya, kebiasaaan dan karakteristik kota ibarat sambil menyelam minum air. Dengan travelling sambil bekerja, aku bisa sekaligus menjalankan tugas sambil mencari pengalaman hidup. Pasti akan ada yang beda yang bisa aku ambil. Di Batam banyak sekali suku-suku yang mendiaminya. orang bilang Batam menjadi miniature Indonesia selain Jakarta tentunya. Di Batam bermacam-macam suku hidup berdampingan seperti Melayu yang merupakan suku asli di Batam, Jawa, Bugis, Batak, Palembang, padang, Cina dan suku-suku yang lainnya. Bermacam akulturasi budaya terjadi di sini. Tidak ada spesifikasi budaya yang mendominasi. Semuanya rukun berdampingan ada di kota ini. Berbagai macam tempat ibadah agama juga bertebaran di Kota Batam, macam-macam kuliner dan makanan-makanan dari seluruh Indonesia. Yang unik dari kota ini ketika ketika hendak memesan minum es teh, mereka menyebutnya The obeng dan kalau teh hangat mereka menyebutnya teh O. Nggak tahu asal muasalnya kok bisa obeng dan O seperti itu. Tiap-tiap daerah memang punya kata sendiri dalam mendefiniskan minuman Teh. Di Jakarta, kalau di Warteg ketika ditanya mau minum apa, kemudian kita jawab teh maka yang disuguhkan adalah teh tawar, beda sama di jawa kalau minum teh berarti Teh Manis, kalau mau menyebut teh tawar tanpa gula maka harus pakai teh tawar. Teh paling enak yang pernah kurasakan adalah teh dari Surabaya di warung samping kostku dulu di Gubeng Surabaya. Ketika kutanya pada penjualnya, apa merk teh tersebut, katanya sih tidak dijual di Pasaran. Belinya di daerah lawang Malang. Sayang sekali.
Di Batam, aku coba berbagai macam makanan. Bersama teman-teman kerja area Batam kami coba berbagai macam masakan yang berbeda-beda. Makan sop tulang kaki dari Cirebon, kemudian makan nasi goreng seafood, makan di warung Sunda, makan malam di Harbor bay dengan seafood kepiting. udang, ikan, dan tentu saja makanan favoritku gorengan (tetep nggak ketinggalan). Dari semua makanan yang ada di Batam rata-rata memiliki ciri khas kedaerahan masing-masing. Bagi aku warung Sunda yang paling enak. Enak dalam rasa dan harga. Aku orang jawa yang suka makanan sunda. Bagi lidah orang jawa makanan sunda memang tidak jauh dari tipikal makanan jawa. Satu hal yang paling aku senangi dari makanan sunda adalah banyak sayurnya. Sayur is one of my favorite dishes. Kalau makan tanpa sayur pasti rasanya ada yang kurang. Dengan makan sayur, gorengan dan telur dadar adalah paket hidangan yang komplit, murah dan meriah.
Selain itu, seafood di Harbour Bay juga sangat enak. Di Jakarta kalau mau makan seafood biasanya aku dan temen-temen makan di Restoran jepang yang all you can eat. Masalahnya di restoran tersebut kita bisa menikmati udang, cumi sepuas-puasnya. Yang aku heran sampai sekarangpun bahwa aku belum bisa menemukan kelezatan dari kepiting. Banyak orang yang tergila-gila dengan kepiting. dan aku sendiri sampai saat ini masih belum bisa merasakan dan menemukan dimana titik kenikmatan dari makan kepiting. Karena ketika makan kepiting yang kurasakan keras dan banyak tulangnya. Apa karena aku anak gunung yang jarang banget makan kepiting kali ya. Dari Seafood yang disajikan di Harbour Bay Cuma udang teur asin yang terasa sangat nikmat di lidahku. Rasanya memang pas, tidak begitu asin dan gurih. Inilah udang telur asin yang paling enak kurasakan selama ini. Makan malam bersama Pak Anedi, Pak Adi, Mbak Alin, Mas Tohiron di pinggir pantai sambil menyaksikan kapal-kapal yang lalu lalang dari Singapure. Pengalaman yang menarik.
Pengalaman menarik lainnya adalah ketika aku menyeberang ke Pulau Bintan untuk presentasi di RSUD Tanjung Uban. Pengalaman yang unik, karena aku bisa naik ferry yang kecil dan menyeberang selat dari pelabuhan Punggur sampai pelabuhan Uban. Akhirnya aku bisa menyeberang ke pulau Bintan dimana Tanjung Pinang sebaga ibu kota Kepri ada di Pulau ini. Di Tanjung Uban yang kurasakan memang sudah modern, jalan-jalan beraspal hotmix dan lagi-lagi panas. Satu hal yang membuat aku tidak nyaman. Kota di pinggir pantai membuat suasana memang terasa Panas, apalagi bayak hutan yang mulai gundul. Semoga pembangunan akan terus berwawasan lingkungan dan pembangunan bukan berarti harus merusak alam bukan?
Bicara tentang Batam, pasti akan bicara tentang BM alias Black Market. Ketika kuutarakan niat untuk pergi ke Batam, hampir semua temanku minta titip dibelikan elektronik yang BM. Karena katanya sih murah karena tidak kena beaya masuk, dan karena aku males diribetkan untuk hal-hal yang aku sendiri nggak paham, maka aku tolak dengan mengatakan sorry adi ke sana bukan jalan-jalan tapi mau kerja he..he..he…sok imut deh…
Selain BM oleh-oleh khas Batam adalah makanan-makanan yang diimport dari Malaysia. Di Supermarket banyak pilihan coklat Import yang murah-murah. Saking murahnya tak bela-belain beli sampai satu kardus makanan. Niatnya sih dibagi-bagiin di Jakarta nanti. Prinsip aku dalam membawa oleh-oleh adalah murah, meriah, dan sama rata sama bahagianya (yang memberi dan yang diberi maksudnya).
4 Hari Di Batam cukup memberiku pengalaman hidup yang tak terlupakan, semoga harapannya aku bisa kembali lagi ke kota Batam dan merajut kembali kenangan-kenangan travelling yang lain. Tidak ada salahnya mumpung masih single, karena dengan traveling kita akan belajar banyak hal tentang kehidupan yang tidak akan kita dapat hanya dengan kita duduk di belakang meja. Untuk rekan-rekan seprofesiku yang ada di Tanjung Uban, RSUD Batam, Budi kemuliaan semoga senantiasa sukses dan menjadi terbaik dalam profesi kalian. Terima kasih atas sambutannya dan semoga bisa ada waktu untuk bertemu lagi. mbak Alin dan Pak Anedi, see you in another occasion. Thanks for everything.




Jakarta, 26 September 2010
(On my Mam Bithday)

Tidak ada komentar: